Judul buku : Catatan Pagi

Penulis : Salman Hada

Penerbit : Rumah Inspirasi, Surabaya

Cetakan : I, Desember 2008

Tebal : xvi + 111 halaman

“Dan deru hari-hari kadang menyisakan beku.
Maka Catatan Pagi bersama denting secangkir coklat cukup mengisi jeda penat. Manis dan hangat. Mau mau mau?” – Joem

Dapatkan buku Catatan Pagi (.pdf) free. Download Catatan Pagi.

Untuk mendapatkan tampilan serasa membaca buku aslinya, gunakan aplikasi Martview. Buka link  http://www.martview.com/ untuk download gratisnya.

Judul buku : Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara

Penulis : Ahmad Yunus

Penerbit : Serambi, Jakarta

Cetakan : I (pertama), Juli 2011

Tebal : 370 halaman

Tidak banyak yang tahu, antara Juni 2009 sampai Juni 2010, dua orang jurnalis Indonesia mengelilingi Nusantara untuk ekspedisi yang mereka namakan “Zamrud Katulistiwa”. Dua orang itu adalah Ahmad Yunus dan Farid Gaban.

Tapi, jangan bayangkan ekspedisi ini selalu melewati jalur utama dengan kondisi jalan yang mulus dan nyaman. Atau, berpindah-pindah pulau menggunakan alat transportasi dengan fasilitas lengkap. Alih-alih demikian, mereka harus melewati jalur terluar kepulauan Indonesia dengan kondisi medan tidak tentu. Bahkan di beberapa tempat kondisinya bisa sangat ekstrem. Untuk itu mereka menyiapkan dua sepeda motor Honda Win yang dimodifikasi mirip motor trail. Hanya itulah alat transportasinya. Selebihnya mereka lebih banyak menggunakan kapal laut seadanya untuk menjangkau banyaknya pulau-pulau kecil, utamanya di Indonesia bagian timur.

Diawali dari Tugu Monas Jakarta, berikutnya mereka menempuh jalur Lampung-Teluk Kiluan-Bengkulu-Pulau Enggano-Kep. Mentawai-Padang-Tapanuli-P. Nias-P. Simeuleu-Banda Aceh-Sabang-Medan-Selat Indonesia-P. Penyengat-P. Natuna-Pontianak-Sintang-P. Karimata-P. Derawan-Nunukan-Tarakan-Makasar-Takabonerate-Wakatobi-P. Banggai-P. Togean-P. Miangas-Ternate-Raja Ampat-Banda Neira-Merauke-Rote-Flores-Sidoarjo-Cirebon-Bandung-Jakarta.

Ekspedisi ini bukan untuk tujuan pelesiran semata. Kalaulah demikian mereka tak perlu susah-susah melewati jalur yang sulit, menyambangi pulau-pulau kecil dan jauh, membelah pulau hanya dengan sepeda motor, menerobos hutan, berpetualang dengan fasilitas dan gaya ala backpacker (bukan bagpacker), dan berinteraksi dengan warga setempat. Sejatinya, mereka ingin memotret realitas wajah Indonesia yang apa adanya. Bukan dari kacamata pusat kota yang bisa saja menyembunyikan kenyataan daerah pinggiran yang sesungguhnya.  Mereka perlu mendapatkan hasil yang jujur dengan usaha yang lebih keras dan penggalian yang lebih dalam.

Hasilnya, di satu sisi mereka menemukan betapa Indonesia kaya dengan segala sumber daya alam lengkap dengan sosial budayanya. Mereka bertemu dengan pemandangan yang eksotik : rombongan lumba-lumba di Teluk Kiluan dan Raja Ampat, rumah Omo Hada di Nias, ubur-ubur jinak di Kakaban, Wakatobi dan Suku Bajo, Banda Naira dengan palanya yang terkenal.  Di sisi lain mereka menemukan praktek pemalakan oleh aparat di Selat Malaka, sisa-sisa penggundulan hutan di Mentawai, penggunakan kompresor sebagai alat bantu menyelam yang berbahaya di Takabonerate dan tempat lain (tidak ada dalam buku ini, saya baru tahu di Kenjeran, Surabaya, nelayan ternyata juga menggunakan alat yang serupa untuk mendapatkan kerang kapak).

Yang lebih parah lagi sebenarnya ada pada potret wilayah terluar Indonesia. Pulau Enggano, Mentawai, Natuna, Nunukan, Miangas di antaranya. Tampak jelas kesenjangan pembangunan yang terjadi di sana. Kemiskinan, fasilitas pendukung yang tidak memadai, infrastruktur yang hanya sebatas janji pemerintah. Kesannya mereka seperti terlupakan. Atau dilupakan.

Sekilas, demikianlah yang disampaikan Ahmad Yunus. Bisa jadi memang demikian sebenarnya wajah Indonesia kita. Apa adanya. Jika selama ini kita menyaksikan gemerlap hidup di pusat kota dengan berbagai kemudahan falisitas di dalamnya, belum tentu mewakili kemajuan pembangunan yang sebenarnya di daerah lain.  Pulau-pulau yang sendiri, kecil, dan luar itu adalah bagian yang luput dari perhatian. Meskipun tanpa perhatian itu pun mereka akan terus melanjutkan hidup. Dengan cara mereka sendiri.

Perjalanan ini tentu semakin membuka wawasan kita tentang potret Indonesia yang selama ini tidak kita ketahui. Membacanya membuat kita semakin dekat dengan Indonesia. Rasanya, jika kita sendiri yang melakukan perjalanan ini maka akan dapat menambah kekayaan pengetahuan, emosi maupun spiritualitas.

Saya suka bagaimana Ahmad Yunus bercerita tentang kisah perjalanannya bersama Farid Gaban dalam buku ini. Lengkap dengan kejujurannya, apa adanya, blak-blakan, sekaligus kekritisannya menyindir apa dan siapa yang menurutnya kurang sesuai. Gaya penulisan jurnalisme sastrawinya membuat ceritanya terasa mengalir. Dan jika masih kurang, tersedia versi singkatnya dalam format DVD (diselipkan menjadi satu paket dalam buku ini).

Setiap petualangan boleh jadi akan berawal dari satu titik dan berakhir di titik yang sama atau berbeda. Tapi, biasanya, perjalanan bersama pengalaman-pengalaman di dalamnya akan menjadi sesuatu yang lebih berkesan ketimbang tujuan itu sendiri. Jika tidak percaya cobalah sendiri untuk berpetualang. Tentu bukan sekedar petualangan. Tapi petualangan yang menantang. Seperti petualangan dua anak Indonesia, Ahmad Yunus dan Farid Gaban.

(Sam, September 2011)

Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia

Judul : Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia

Penulis : Iman Supriyono

Penerbit : SNF Consulting, Surabaya

Cetakan : I, 2010

Tebal : xix + 250 halaman

Indonesia tengah mengalami apa yang kalau boleh saya katakan sebagai tsunami produk asing. Bukan lagi banjir bandang yang efeknya besar tetapi jauh lebih besar lagi yang seakan-akan kita tak dapat mengatasinya. Mengapa? Karena kita adalah kita adalah bagian dari tsunami itu, secara tidak sadar.

Mendengar banjir saja kita sudah berfikir bahwa itu bencana. Apalagi tsunami? Tetapi benarkah kita menganggap bahwa apa yang kita alami sebagai sebuah tsunami yang identik dengan bencana, atau kemudahan yang sudah menjadi gaya hidup kita?

Diantara orang Indonesia yang memahami masalah ini menurut saya adalah Iman Supriono, penulis buku Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia.

Untuk memahaminya, sejenak kita memang harus berfikir out of the box—berfikir di luar kotak. Bagi sebagian orang, bisa jadi ini mengganggu. Sebab hal itu berarti kita keluar sejenak dari kenyamanan hidup karena kebiasaan mengkonsumsi produk-produk asing. Tetapi jangan salah, berfikir di luar kotak akan membuat kita sehat. Yang benar?

Buku ini bukan hanya sebagai bentuk keresahan tetapi sekaligus solusi, optimisme. Sederhananya adalah jika produk asing bisa menjadi produk global, lalu kenapa produk kita tidak bisa? Itulah semangatnya, mendorong pengusaha Indonesia menjadikan perusahaan dan produknya menjadi pemain global, kelas dunia, bukan hanya jago kandang.

“Amerika serikat adalah negeri para kelas dunia. Dari 2000 perusahaan kelas dunia versi forbes 2010, 536 diantaranya berasal dari Amerika. Jadi 26.80% dari 2000 perusahaan dunia berasal dari Amerika.”

20 peringkat teratas perusahaan Amerika tersebut : JP Morgan Chase, General Electric, Bank of America, ExxonMobil, Wells Fargo, AT&T, Wal-Mart Stores, Berkshire Hathaway, Chevron, Goldman Sachs Group, Procter & Gamble, IBM, Hewlet-Packard, Verizon Communication, ConocoPhilips, Pfizer, Johnson and Johnson, Microsoft, Ford Motor, Merck and Co, Apple.

Nama-nama tersebut sudah tidak asing di telinga kita, bahkan bisa jadi kita adalah salah satu pengguna produknya. Bukan hanya itu saja, coba sebutkan perusahaan-perusahaan global dan produk-produknya yang ada Indonesia. Perhatikan juga iklan-iklan di televisi kita. Tampak jelas ekspansi dan pengaruh mereka di negara kita.

Di samping ini daftar orang terkaya dunia versi Forbes tahun 2010. Di sini diambil 15 saja.

Dari data tersebut Anda mungkin mempunyai analisa sendiri. Tapi perhatikan! Sampai urutan 15 hanya Li Ka-shing saja yang secara tegas dinyatakan memiliki perusahaan konglomerat, yaitu perusahaan yang bergerak dalam berbagai bisnis. 14 sisanya adalah sukses pada perusahaan fokus, yaitu yang bergerak di satu bidang tertentu.

Selanjutnya dari 2000 perusahaan global, Forbes mengelompokkannya menjadi 26 kategori. Dari 26 tersebut 25 diantaranya adalah perusahaan fokus. Satu sisanya adalah perusahaan konglomerat.

 Jadi, dengan kata lain Iman Supriono berfikir bahwa perusahaan fokus akan jauh lebih mempunyai peluang besar untuk menjadi perusahaan kelas dunia daripada perusahaan konglomerat. Konsentrasi pada satu bidang usaha untuk menjadi kelas dunia.

Lebih lengkapnya jalan yang harus ditempuh pengusaha adalah :

  1. Jago kandang
  2. Temukan jati diri bisnis
  3. Kerja habis-habisan
  4. Cash on hand
  5. Merger, Akuisisi
  6. Kelas dunia

Lebih lengkap lagi, silahkan baca sendiri bukunya ya… Apalagi kalau Anda seorang pengusaha, membaca buku ini, harusnya tambah membuat Anda bangga. Anda-lah pahlawan Indonesia. Salam takzim saya untuk Anda semua.

(Sam, Tanjung-Kalsel 22/04/2011)

Judul : Ngapaian Kerja Kalau Terpaksa?

Penulis : Rivalino Shaffar

Penerbit : Kaifa, Bandung

Cetakan : 2, 2009

Tebal : 164 halaman

Ide sederhananya adalah berapa lama waktu yang kita gunakan untuk bekerja? Kalau kita jumlahkan waktu bekerja akan mendominasi seluruh umur kita. Nah, alangkah sayangnya jika waktu yang seharusnya berharga tersebut menjadi tidak memiliki arti khusus untuk kebahagiaan kita.

Masalah-masalah yang kita hadapi dalam pekerjaan kita jangan membuat kita terburu-buru untuk keluar dari pekerjaan tersebut. Rivalino memberikan kiat-kiatnya agar pekerjaan kita menjadi lebih menyenangkan dan berpengaruh pada produktivitas dan kualitas pekerjaan kita.

Di antara kiat-kiatnya adalah

1.       Nikmati pekerjaan layaknya permainan

2.       Nikmati persahabatan dengan rekan kerja yang menyenagkan

3.       Nikmati saat kita menjadi diri sendiri

4.       Nikmati saat kita memiliki makna

Bekerja memiliki nilai yang sangat mulia. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad).

Marilah kita berdo’a sebelum bekerja, bekerja dengan penuh antusias, dan bersyukur atas kesempatan terbaik yang diberikan oleh Tuhan melalui pekerjaan kita.

(Sam, Surabaya, 28/02/2011)

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 4,700 times in 2010. That’s about 11 full 747s.

 

In 2010, there were 17 new posts, growing the total archive of this blog to 49 posts. There were 26 pictures uploaded, taking up a total of 963kb. That’s about 2 pictures per month.

The busiest day of the year was April 7th with 53 views. The most popular post that day was 100 Great Business Ideas.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were mail.yahoo.com, google.co.id, en.wordpress.com, facebook.com, and ads.masbuchin.com.

Some visitors came searching, mostly for matahari, jangan bersedih, la tahzan, gambar matahari, and minder itu nikmat.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

100 Great Business Ideas February 2010

2

Miranda Jangan Ambil Nyawaku December 2009
3 comments

3

Laa Tahzan (Jangan bersedih) December 2009
1 comment

4

40 Tanggung Jawab Anak Terhadap Orang Tua December 2009

5

Mengusir Matahari November 2009

Judul : Seri Buku Tempo : Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman

Penulis : Tim Tempo

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta

Cetakan : I, September 2010

Hal : xx + 172 halaman

“Pemimpin berarti suri tauladan dalam segala perbuatannya…”

Boleh jadi, inilah, kata-kata terkuat yang ada di buku ini. Sebenarnya ini adalah coretan tangan bertanggal 2 Juli 1949, di sebuah rumah di Pulau Bangka. Sepintas tak istimewa kecuali karena ditulis oleh seseorang yang harum dan besar namanya dalam sejarah Bangsa Indonesia : Mohammad Hatta.

Hatta dilahirkan oleh Saleha Djamil di Desa Tajungkang, Bukittingi pada 12 Agustus 1902. Ayah beliau Haji Mohammad Djamil. Hatta meninggal di Jakarta 14 Maret 1980 meninggalkan orang-orang yang mencintainya, kenangan dan keteladanan seperti petikan tulisannya di atas yang bersemangat.

Mohammad Hatta adalah sosok yang kuat dalam tiga hal :

Seorang religius

Semasa kecilnya Hatta belajar  mengaji kepada Syekh Mohammad  Djamil Djambek sampai mengkhatamkan Al-Qur’an. Tak pernah alpa menghadiri majelis beliau di surau, selepas belajar di Europeesche Lagere School (ELS). Saat belajar di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) di Padang, Hatta juga memperoleh bimbingan agama dari Haji Abdullah Ahmad. Bersamaan dengan itu Hatta mengenal Jong Sumatranen Bond dan mendengarkan ceramah dari tokoh-tokoh agama dan pergerakan.

Selama hidupnya Hatta dikenal sebagai sosok yang taat agama, menjaga sholat dan menghargai waktu, selain kesederhanaannya. Saat pengasingannya bersama Sutan Sjahrir di Banda, hari-harinya dihabiskan dengan diskusi, jalan-jalan ke perkebunan, belajar, membaca buku dan menulis untuk untuk surat kabar. Bahkan saking disiplinnya, Hatta dijadikan jam bagi para pekerja perkebunan pala. Mereka menandai kemunculan Hatta sebagai jam lima, yang berarti saatnya berhenti bekerja.

Kelak, pemahamannya terhadap nilai-nilai agama juga mempengaruhi cara dan sikapnya dalam kesehariannya maupun berpolitik.

Seorang akademisi

Pendidikan tinggi Hatta adalah Rotterdamse Handelshogeschool – sebuah sekolah ekonomi bergengsi di Belanda. Hatta masuk saat usia 19 tahun. Di sanalah Hatta bertemu dengan sesama pelajar Indonesia yang memiliki semangat untuk memerdekakan Indonesia dari tangan Belanda melaui wadah Perhimpunan Indonesia. Hatta pernah menjadi ketuanya. Jadilah Hatta sebagai seorang doktor ekonomi dan aktivis pergerakan. Sikapnya yang tegas menentang penjajahan kolonial membuatnya dipenjara oleh pemerintah Belanda.

Ia menaruh perhatian yang tinggi dalam ilmu pengetahuan. Kecintaannya terhadap buku sudah tidak perlu diragukan lagi. Bacaan bukunya melimpah. Itulah amunisinya, untuk membuat tulisan-tulisanya menjadi senjata yang tajam dan menggetarkan. Apalagi Hatta juga fasih berbahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman, membuat tulisan dan pidatonya memiliki gaung internasional.

Uniknya, emas kawin untuk menikahi istrinya, Rahmi, pada November 1945 adalah buku! Buku Alam Pikiran Yunani yang ditulisnya sendiri. Memang Hatta!

Sedangkan perhatiannya terhadap dunia ekonomi hadir lewat koperasi yang kita kenal hingga saat ini.

Seorang negarawan

Ia mencintai negerinya. Bersama Sukarno ia menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya mereka dikenal sebagai Dwitunggal karena menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia. Tetapi mereka berbeda dalam banyak hal. Pertentangan mereka tampak jelas ketika Sukarno menolak mengesahkan Maklumat X yang diteken Hatta untuk meletakkan sistem multipartai dan demokrasi parlementer. Tahun 1956 Sukarno malah mencanangkan Demokrasi Terpimpin sambil berseru, “Marilah sekarang kita kubur semua partai.”

Hatta mengecam konsep Sukarno ini sebagai bentuk kediktatoran. Dan perpecahan pun tak terelakkan. Akhirnya, tahun 1956 Hatta mengundurkan diri dari pemerintahan.

Meski tidak lagi di pemerintahan, Hatta tak kehilangan kekritisannya. Lewat forum-forum dan tulisan-tulisannya  di media massa ia mengkritik sikap politik Sukarno dan pengelolaan Negara yang tidak semestinya. Akibatnya pada tahun 1960 sejumlah surat kabar dibredel penerbitannya. Selanjutnya Hatta menggunakan cara menulis surat pribadi kepada Sukarno agar tak menyusahkan orang lain. Ini dilakukannya pada tahun 1957-1965, saat Sukarno menjadikan dirinya sendiri sebagai presiden seumur hidup.

Di luar segala perbedaan tersebut, Hatta dan Sukarno adalah teman satu sama lain. Pertemuan terakhir mereka adalah saat Hatta menjenguk Sukarno yang diopname di rumah sakit pada 19 Juni 1970. “Hatta, kamu di sini?” Tanya Sukarno. “Ah, apa kabarmu, No?” jawab Hatta sambil menyalami tangan Sukarno dengan hangat.

Hatta terdiam, dan Sukarno berlinangan air mata. Ketika saatnya berpisah, Hatta  masih berat melepaskan tangan Sukarno. Dua hari setelah pertemuan itu, Sukarno meninggal dunia.

Hatta, di antara bapak pendiri bangsa, bersama-bersama yang lain merasakan suka dukanya perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Pembuangannya ke Banda, Bangka dan Digul pun tetap memiliki kesan dan pesan berharga. Seseorang dengan pendidikan eropa, tapi tak kehilangan jati dirinya. Kaulah anak cie pamainan mato (anak yang pada dirinya terpendam kebaikan, dan perangainya mengundang rasa sayang). Tak salah jika bangsa Belanda pun menamakan salah satu jalannya dengan namamu, Mohammed Hattastraat.

(Sam, Tanjung, Kalsel 26/12/2010)

Judul buku : The 7 Laws of Happiness : Tujuh Rahasia Hidup Yang Bahagia

Penulis : Arvan Pradiansyah

Penerbit : Kaifa, Bandung

Cetakan : I, April 2010

Tebal : 420 halaman

Libur 2 hari karena faringitis memiliki arti lain bagi saya. Ternyata saya malah memiliki waktu lebih banyak sampai bisa menyelesaikan membaca buku The 7 Laws of Happines. Bayangkan untuk menghabiskan 1 buku ini saja masak sampai memerlukan waktu 2 bulan.

Buku ini juga istimewa karena susah untuk mendapatkannya. Kebetulan di kota tempat saya bekerja saat ini tidak ada toko buku yang menjual buku-buku update. Untuk ke ibu kota provinsi perlu 5 jam perjalanan. Maka, toko buku online-lah solusinya. Harus bersabar memang, butuh 5 hari untuk menunggu buku sampai sejak hari pertama dipesan.

Arvan Prdiansyah, dulu saya suka mendengarkan suaranya lewat talkshow “Smart Happiness” di SMART FM. Dan sekarang saya beruntung dapat menikmati salah satu bukunya.

Membaca judul buku ini, sepintas mengingatkan kita pada The 7 Habits-nya Steven R. Covey. Dengan jujur Arvan mengakui bahwa sedikit banyak dia dipengaruhi oleh buku tersebut. Jika dibandingkan, akan ditemukan persamaan dalam hal struktur, proses pendewasaannya, dan isi (content) buku. Hanya saja jika The 7 Habits berkaitan tentang memilih tindakan, The 7 Laws adalah tentang memilih fikiran.

Ketujuh rahasia yang dimaksudkan Arvan adalah sabar (patience), syukur (gratefulness), sederhana (simplicity), cinta (love), memberi (giving), memaafkan (forgiving), dan berserah (surrender). Tiga yang pertama berkaitan dengan intrapersonal relation, 3 berikutnya berkaitan dengan interpersonal relation, dan terakhir berkaitan dengan God relation.

Berserah adalah bentuk tertinggi dari kepercayaan (trust) kita kepada Tuhan. Tidak cukup dengan  percaya bahwa Tuhan itu ada, lebih dari itu kita percaya bahwa Ia senantiasa melindungi, percaya bahwa Ia Maha Mengetahui segala sesuatu, dan percaya bahwa Ia memilihkan yang terbaik untuk kita. Berserah adalah percaya secara total, dari seluruh sisi dan dimensi.

Yang menarik dari buku ini selain dari isinya adalah pegemasannya. Buku ini kaya akan ilustrasi, tata letak kreatif, penekanan, dan kata-kata inspiratif. Ditambah bonus CD, seolah-olah buku ini tampil dengan kesan penting, tapi ringan dan menyenangkan.

Bacalah! Seperti komentar Jansen H. Sinamo “…filosofinya perennial, ajarannya universal, presentasinya konseptual-logikal, dan bahasanya sangat renyah dan populer. Belilah, bacalah, dan amalkanlah. Niscaya Anda akan beruntung seribu kali!” (sam)

The Rich Plan

Judul : The Rich Plan
Penulis : Supardi Lee
Penerbit : Pustaka Inti, Bekasi
Cetakan : Pertama, Agustus 2007
Tebal : xiv + 168 hal

Bagi sebagian orang,  “kaya” sering diartikan sebagai kepemilikan terhadap harta yang melimpah. Uang, rumah, mobil adalah  indikator yang digunakan untuk  mengukur apakah seseorang dianggap kaya atau tidak. Sudut  pandang demikian mungkin yang umum dipahami oleh sebagian kita. Memang tak sepenuhnya salah, hanya akan menjadi bermasalah jika kita tidak bisa melihatnya secara utuh. Jika semata-mata kaya didasarkan kepada materi atau hal-hal yang bersifat fisik , orang tidak mampu menggali atau melupakan hal-hal di luar ukuran tersebut, yang dapat melengkapi hidupnya, menjadi semacam penyeimbang sehingga seseorang menjadi bahagia.

Menurut Supardi Lee, kaya yang sejati didefinisikan berdasarkan 5 parameter :
Kaya secara fisik
Kaya secara fisik berkaitan dengan kepemilikan barang-barang fisik. Seperti yang telah dicarakan sebelumnya, ukurannya bisa seperti uang, rumah, mobil dan sebagainya.
Kaya secara finansial
Secara finansial, seseorang dikatakan kaya bila:
Total aset > total utang
Pendapatan terus meningkat
Rasio kekayaan > 1
Yang dimaksud  rasio kekayaan adalah perbandingan antara rata-rata pendapatan dengan rata-rata pengeluaran
Kaya secara mental
Seseorang  yang dikatakan kaya jika dapat mempertahankan kualitas mentalnya seiring peningkatan kekayaan fisik dan finansial. Sebagai contoh  lain semakin kaya seseorang, semakin seseorang tersebut disiplin, rendah hati. Tidak sebaliknya, menjadi malas dan sombong.
Kaya secara sosial
Indikatornya adalah derma. Salah satu filosofinya adalah  karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain.
Kaya secara spiritual
Kaya secara finansial menghubungkan uang dengan nilai-nilai spiritual yang kita miliki. Ketika aktivitas finansial kita mendatangkan pahala maka kita kaya, dan sebaliknya, ketika aktivitas finansial mendatangkan dosa, maka pada dasarnaya kita miskin.

Kaya sejati adalah kondisi dimana seseorang dapat memenuhi kelima parameter tersebut dalam dirinya. Jika ada salah satu saja atau beberapa tidak terpenuhi maka Supardi Lee menyebutnya sebagai paradoks kekayaan, berarti kekayaan kita belum sempurna. Siapapun  ingin menjadi kaya, maka seharusnya kita akan memilih kaya sejati.
Kita baru membuka satu tema dalam buku ini. Semakin membuka lembar demi lembarnya, kita akan menemukan tema-tema lain yang tak kalah menariknya. Supardi Lee melengkapinya dengan “Tiga Tipe Manusia” sehingga pembaca diarahkan untuk memilih tipe achiever.

Supardi Lee memberi gambaran 5 manajemen keuangan achiever:

  1. Memiliki pendapatan yang terus meningkat
  2. Berderma dengan tepat
  3. Menabung untuk berbagai keperluan
  4. Kelola utang dengan bijak
  5. Seimbangkan konsumsi kebutuhan dan kesenangan

Masing-masing memiliki fungsi dan saling keterkaitan antara satu sama lain. Jika ini dilakukan dengan baik, maka seseorang memiliki pengelolaan yang sehat.

Dan untuk praktisnya, buku ini dilengkapi dengan panduan praktis alokasi penggunaan keuangan sukses. Untuk mudahnya perhatikan tabel berikut ini:

Demikianlah buku ini, tentu saya tidak bisa merangkum semuanya. Baca buku ini. Semoga kita bisa semakin bijak memandang arti kekayaan dan mengelolanya dengan baik sehingga menjadi manusia yang bahagia dan mampu memberi manfaat kepada sesama dan lingkungan. Termasuk prioritas kita dalam menggunakan uang, yang sebelumnya konsumsi-utang-menabung-derma, menjadi derma-menabung-utang-konsumsi. Mengapa demikian? Sekali lagi, baca saja buku ini. Semoga bermanfaat. (sam)

Manusia Hanya Bisa Berencana,

Allah yang Menentukan…

Judul Buku : Sandiwara Langit

Penulis : Abu Umar Basyir

Penerbit : Shofa Media Publika

Tahun Penerbitan : 2oo8

Kota Penerbitan : Magelang

Tebal Buku : 212 halaman

Sandiwara Langit, Sebuah Kisah Nyata Bertabur Hikmah Penyubur Iman. Kisah ini berawal ketika seorang pemuda shalih bernama Rizqaan ingin menikah. Dari kondisi ekonomi, Rizqaan bukanlah pemuda atau berasal dari keluarga kaya,  ia pun belum punya pekerjaan tetap. Dari segi pendidikan, Rizqaan hanya lulus SMA. Usiannya pun masih 18 tahun.

Pernikahan Rizqaan dengan Halimah, seorang wanita shalihah, anak dari keluarga kaya, diawali dengan sebuah akad yang aneh, akad yang setelahnya diucapkan syarat: bahwa apabila dalam jangka sepuluh tahun menikah, kehidupan ekonomi mereka berdua tidak menjadi baik, mapan, dan stabil, Rizqaan harus menceraikan istrinya secara sukarela.

Beberapa bulan pertama mengarungi kehidupan rumah tangga adalah masa yang sangat sulit bagi Rizqaan dan Halimah. Namun, Rizqaan adalah pekerja keras, didampingi istrinya yang senantiasa memotivasi dan sangat pengertian, perlahan perekonomian keluarga pun akhirnya meningkat, sangat meningkat. Jalan kehidupan keluarga, tak mulus tentunya, banyak keriki-kerikil tajam yang harus dilewati. Memasuki tahun kesepuluh, Rizqaan dan keluarganya bisa hidup mapan, produksi rotinya meningkat. Bila mereka bisa bertahan, rumah tangga itu akan utuh. Itulah kebahagiaan yang mereka tunggu-tunggu.

Sampai musibah itu, musibah di malam bulan keduabelas, tahun kesepuluh, hari yang keduapuluh delapan, dua hari lagi perjanjian berlangsung. Kebakaran menghanguskan semuanya. Dan bagaimanakah kelanjutan dari perjanjian itu? Akankah berakhir begitu saja?  Bisakah Halimah mewujudkan keinginannya seperti yang disebutkan dalam hadits:

“Wanita manapun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk Surga.”

Sungguh, ending yang mengharukan.

Dikisahkan dengan bahasa yang sederhana, lugas, dijelaskan lengkap dengan dalil Al Quran dan Hadits, novel ini tidak hanya menyuguhkan sebuah kisah biasa, tapi juga memperkaya, memantapkan iman dan wawasan keislamann pembaca. Sekali lagi, Sandiwara Langit, Sebuah Kisah Nyata Bertabur Hikmah Penyubur Iman. Ya itulah kisah dalam novel ini.

Kehidupan dunia hanyalah permainan, bagai sandiwara, tidak ada yang kekal. Semua bisa diputarbalikkan. Kita tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa berikhtiar, menggapai kebahagiaan dunia untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang kekal.

Sangat lebih baik, jika Anda membaca sendiri novel ini. Lebih menyentuh tentunya. Selamat membaca. (Nurul Efha)

Dalam Keterbatasan pun,

Kan Ada Kekuatan Itu…

Judul Buku : Moga Bunda Disayang Allah

Penulis : Tere-Liye

Penerbit : Republika

Tahun Penerbitan : 2oo6

Kota Penerbitan : Jakarta

Tebal Buku : 247 halaman

Senyap. Gelap. Hitam. Melati menatap ke arah jutaan kunang-kunang yang terbang.

Sayang, gadis kecil itu tidak akan pernah melihatnya……

Melati, bocah berumur enam tahun yang menggemaskan, berambut ikal, berpipi tembam, bermata hitam bagai buah leci, yang seharusnya bisa bermain, bisa melihat indahnya kehidupan, tapi tidak baginya. Dia hanya melihat gelap, tidak ada warna. Dia hanya mendengar senyap, tidak ada suara.

Setelah piring terbang, brisbee, menghantam dahinya, putus semua kesenangan. Liburan yang menyenangkan di Palau, Mikronesia berakhir dengan amat menyakitkan. Saat itu, Melati masih berusia tiga tahun, masih lucu-lucunya. Tapi, sejak saat itu, keterbatasan Melati mulai datang satu per satu. Melati pelan-pelan mulai buta. Seminggu kemudian, melati juga mulai tuli. Belum cukup. Melati juga kehilangan semua pengetahuan yang pernah dipelajarinya selama ini.

Bunda, seorang ibu yang baik, sangat sabar, tidak pernah berhenti berdo’a, berharap keajaiban Tuhan datang. Berbagai cara dilakukan. Tim dokter dari rumah sakit ternama ibu kota pun sudah didatangkan. Tapi, tak ada hasilnya. Kondisi Melati malah memburuk. Setiap hari mengamuk, menggerung. Melempar apa saja di sekitarnya. Pecah. Hingga Bunda yang mulai sakit-sakitan, lelah memikirkan keterbatasan putri semata wayangnya, hampir putus asa.

Sampai suatu ketika, pertolongan itu datang. Janji Allah, bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan, benar-benar datang. Lewat Karang, pemuda yang sangat mencintai anak-anak, yang bisa merasakan sentruman itu, kejaiban itu datang.  Melalui proses yang rumit dan panjang. Pengalaman pahit, meninggalnya 18 anak kecil di lautan luas, mengambang beku, sempat membuat pemuda itu jatuh dalam keterpurukan, terkungkung oleh rasa bersalah. Sampai, cahaya perubahan itu datang kembali. Karang berjanji akan membantu Melati. Melawan keterbatasannya. Menunjukkan pada semua orang bahwa Tuhan itu adil.

Sungguh novel yang mengharukan, diangkat dari kisah nyata, yang membuat hati ini menangis. Novel ini sarat makna, dengan bahasa yang unik, membawa pembaca larut dalam kisah novel, juga ada sisi humornya.

Membaca novel ini, membuat kita semakin bersyukur. Melati dengan keterbatasannya, buta, tuli, bisu, yang seakan terputus dari dunia karena tak ada alat berkomunikasi, harus membayar mahal untuk bisa mendengar, melihat indahnya dunia. Melati terjatuh berkali-kali. Sakit demam. Sampai tubuhnya luka-luka terkena pecahan tembikar. Melati harus melewati proses belajar yang sulit, menyakitkan Tapi, ada kekuatan dalam diri Melati, ada harapan, ada semangat yang membuncah untuk mengetahui segala hal. Sementara kita?

Novel ini juga membuat kita lebih mencintai Allah dan hamba-hamba-Nya. Ada hikmah di balik semua krisis itu. Saat musibah datang mencekik, saat diri terlalu lelah, saat asa seakan sirna, tetaplah berpikir positif kepada-Nya. Berikan usaha yang terbaik. Jauh di atas segalanya, Allah telah merajut yang terbaik untuk hamba-Nya.

Akan lebih menyentuh jika Anda membaca sendiri novel ini. Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca oleh masyarakat luas. Semoga kita akan semakin mengerti hakikat kebahagiaan itu. Dan menjadi hamba yang senantiasa mencintai sesama kerena-Nya.

(Nurul Faiqotul Himma, Mahasiswa Teknik Kimia ITS)

Judul Buku : For God and Country
Penulis : Kapten James Yee
(Seorang perwira muslim Amerika Serikat di penjara Guantanamo-Kuba)

Menjadi minoritas dalam lingkungan militer merupakan hal yang tak mengenakkan bagi seorang perwira. Seperti terkucilkan dan berbeda lingkungannya, hal seperti itulah yang dialami James Yee, seorang warga Amerika keturunan Jepang yang bertugas militer di Penjara Guantanmo-Kuba. Penjara terbesar no 2 milik militer Amerika setelah Al-Catraz.
Karir menjadi sipir di penjara untuk para teroris yang kebanyakan muslim tersebut, cukup membuat kesabaran James Yee hampir habis. Bayangkan saja, disanalah para tawanan muslim (yang dijuluki teroris) memperoleh penyiksaan-penyiksa an yang bukan saja fisik, namun juga batin selaku pemeluk Islam.
Kalaupun mendapat hukuman pukul, bagi tawanan hal itu dirasa biasa saja. Namun, seringkali bernuansa SARA seperti tingkah laku para sipir yang menginjak-nginjak Al-Qur’an, mengganggu ketika sedang menunaikan shalat dll. Kadangkala bila para tahanan terprovokasi maka Kapten James Yee harus turun tangan untuk melerai keributan antara sipir dan tahanan tadi.
Hal yang paling disesalkan Kapten James adalah, para sipir yang mayoritas Kristen tersebut berusaha memprovokasi para tahanan. Ulah provokasi bermacam-macam, mulai dari sengaja menumpahkan kopi ke atas Al-Qur’an hingga berteriak-teriak kalau malam tiba. Sebagai sesama muslim, hal tersebut sangat menyakitkan bagi dirinya, maka hanya keluarganyalah yang dapat memberikan motivasinya untuk bertahan karir di dunia militer sebelum Ia keluar dari dinas militer.
Buku setebal buku-buku fiqh tersebut ditulis berdasarkan pengalaman sang kapten selama menjadi sipir di Penjara Guantanamo yang sekarang telah ditutup. Berbagai hinaan dan cercaan sebagai penganut muslim Ia rasakan dengan hati pilu, nuraninya pun tidak bisa bertahan menyaksikan para saudara-saudara semuslimnya juga dihina agamanya.
Di akhir tulisan sekaligus biografi dirinya, Kapten James juga menambahkan foto-foto semasa beliau dinas militer, keluarganya serta sanak famili yang telah memberikan motivasinya untuk terus bertahan.

(Subandi Rianto, Ilmu Sejarah-UNAIR, 0812 2779 7042).

Judul Buku : Saatnya Dunia Berubah!
Penulis : Siti Fadilah Supari
(Mantan Menteri Kesehatan RI)

Buku fenomenal karangan –mantan- orang nomor satu di Departemen Kesehatan ini, pertama kali “meledak” bukan di Indonesia. Tapi, di negara tetangga. Australia. Disanalah digelar symposium nasional yang membahas karya dokter ahli jantung ini. Kebanyakan para ahli memuji sikap Menkes yang berani unjuk suara terhadap ketidakadilan di dalam sistem kesehatan dunia. Barulah setelah mengetahui ada kabar symposium di Australia, media massa di Indonesia berusaha meledakkannya di dalam negeri. Tak butuh seminggu, Menkes sudah dibicarakan masyarakat mengenai karyanya yang kritis tersebut.
Berbicara mengenai kekritisan sang menteri dalam bukunya. “Saatnya Dunia Berubah” membahas habis mengenai sistem kesehatan di dunia (di bawah naungan WHO) yang penuh ketidakadilan bagi negara-negara berkembang. Secara gamblang beliau menjelaskan panjang lebar mengenai sistem tersebut.
Sebuah sistem pendistribusian virus dari negara berkembang yang diambil sampelnya disetor ke WHO (Penyetoran tersebut seringkali tanpa kontrak yang jelas) dari sanalah WHO membawa virus ke laboratorium Departemen Pertahanan Amerika. Yang membuat Siti Fadhilah sewot adalah dengan dibawanya sample virus ke lab tersebut telah menimbulkan tanda Tanya besar. Virus pasti akan dibuat antivirusnya dan dijual kembali kepada negara berkembang dengan harga yang sangat mahal (padahal sample virus tadi diambil dari negara berkembang).
Presentasi makalah (sebelum dibukukan) Siti Fadhilah Supari untuk mereformasi ulang sistem tersebut mendapat apreasiasi luas di kalangan Internasional. Khususnya negara-negara Afrika. Beliau menekankan perlunya kedudukan yang jelas negera pengirim sample dalam kasus pembuatan antivirus ini. Agar kedepannya tercipta sistem yang berkeadilan bagi negara-negara berkembang (yang notabene sering terserang penyakit bervirus).
Demikianlah, disaat pemerintahan- pemerintahan negara lain bungkam terhadap sebuah permasalahan besar. Dari Indonesia kita mempunyai menteri –yang mirip dengan Ali Alatas- berani menyuarakan keadilan tanpa menyuarakan suara antiasing. Sayangnya, dalam pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II SBY-Boediono. Orang-orang seperti Siti Fadhilah Supari tersingkir dari kursi menteri. Wallahualam apa rencana pemerintahan yang baru ini.

(Subandi Rianto, Ilmu Sejarah-UNAIR, 0812 2779 7042).

Judul Buku : Dari Kilometer 0,0
Penulis : Andi Mallarangeng
(Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk dalam negeri, sekarang sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga).

Tak jauh beda dengan Dr. Dino Pati Jalal, Jubir Presiden untuk dalam negeri, Bpk Andi Mallarangeng malah menulis tentang kesehariannya sebagai jubir di salah satu Koran nasional. Semua artikel itulah yang kemudian dibukukan dengan judul “Dari Kilometer 0,0″. Agak terkesan aneh dengan judulnya. Tapi, dalam kata pengantarnya dijelaskan bahwa maksud kilometer 0,0 adalah dimana keadaan beliau sebagai jubir sangat dekat sekali dengan presiden. Sehingga dapat dikatakan tak ada jarak presiden dengan dirinya.
Berbeda dengan yang ditulis Dino Patti Jalal mengenai kepemimpinan SBY. Andi Mallarangeng menulis pengalamannya dalam mendampingi presiden selama melakukan inspeksi di dalam negeri. Tak jauh dengan apa yang kita lihat di surat kabar, beliau juga membagi pengalaman mengenai ketatnya protokol istana jika ingin bertemu presiden.
Pengalamannya dalam menyiapkan pertemuan presiden dengan sejumlah pejabat tinggi negara, mendampingi presiden ketika siaran pers (jumpa pers) dll.
Gaya penulisannya yang mengalir lugas lebih membuat jalan cerita mudah ditangkap pembaca. Hal ini berbeda dengan gaya penulisan “Harus Bisanya” Dino Patti Jalal yang cenderung formal seperti skripsi. Pak Andi –sapaan akrab Andi Mallarangeng- menceritakan satu demi satu peristiwa dengan cair dan diakhir artikel selalu diberi semacam pendingin-pendingin nya.
Sayangnya, kumpulan artikel ini dirasa hanya seperti pengetahuan ringan saja tentang kehidupan seputar presiden kita. Sangat jauh berbeda dengan “Harus Bisa”, disini tidak menceritakan secara lugas bagaimana SBY bersikap menghadapi rakyatnya. Malahan, yang banyak disorot adalah tingkah laku rakyat dalam menghadapi presidennya. Semisal, ketika SBY melakukan inspeksi, Pak Andi hanya membeberkan sekilas esensinya dan lebih menyoroti kulit luar masyarakatnya.
Tapi, ada satu hal yang perlu kita teladani dari Pak Andi ini. Beliau, sebagai jubir presiden yang selalu stand by disisi kepala negara. Selalu tidak meninggalkan hobinya yaitu menulis, dimana saja Ia tak lupa membawa notebook kecilnya untuk merekam kejadian-kejadian penting selama bertugas disisi presiden.

(Subandi Rianto, Ilmu Sejarah-UNAIR, 0812 2779 7042).

Judul Buku : Harus Bisa!
Penulis : Dr. Dino Patti Djalal
(Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk Luar Negeri).

Buku ini menceritakan sisi lain presiden kita –Susilo Bambang Yudhoyono- di mata juru bicaranya. Pengalaman mendampingi beliau selama dalam kabinet Indonesia Bersatu Jilid satu, dituliskan secara gamblang oleh doktor hubungan luar negeri ini. Mulai dari sifat SBY yang disiplin di saat Konferensi KAA, rapi serta mengharap semua bawahannya dapat mematuhi instruksi dengan jelas dan cepat.
Selain itu, istana negara juga punya langganan tukang pijet presiden, orangnya adalah keturunan tionghoa yang pinter akan pijat-memijat tradisional Cina. Beliaulah yang didapuk untuk menjadi tukang pijet presiden ketika presiden kecapekan karena tugas.
Yang terpenting dari penulisan buku ini adalah penggambaran sosok kepemimpinan yang ada di presiden dari Jawa Timur ini. Kelihatannya seperti tenang karena pembawaan SBY sejak dari militer di bagian strategi, namun SBY juga orang yang regres dalam hal instruksi. Beliau paling tidak suka jika program untuk rakyat yang butuh reaksi cepat, ternyata molor dijalankan bawahannya. Masih banyak cerita kepemimpinan lainnya yang patut kita pelajari dari presiden yang menjadi kandidat penerima nobel perdamaian ini.
Hampir 80% cerita yang dituliskan mencerminkan kelebihan SBY secara umum dan khusus, sehingga cenderung subjektif –karena dilihat dari sudut pandang jubir- namun buku setebal Da Vinci Code ini mampu menggambarkan sisi-sisi tersembunyi seorang presiden. Yang belum tentu diketahui banyak orang.
Terakhir, buku ini juga tidak diperjualbelikan layaknya buku-buku seperti biasanya. Dicetak dengan limited edition dan hanya diberikan untuk lembaga-lembaga pendidikan serta orang-orang tertentu. Jadi jika anda mencari buku ini di toko-toko buku akan sangat susah dicari, alangkah baiknya dapat mencari di perpustakaan yang dimiliki lembaga pendidikan atau ke sekretariat negara langsung di Jakarta.

(Subandi Rianto, Ilmu Sejarah-UNAIR, 0812 2779 7042).

Judul Buku      : Matematika Alam Semesta

Pengarang       : Arifin Muftie

Penerbit           : PT Kiblat Buku Utama Bandung

Kesan  takjub yang pertama kali terlintas membaca buku yang berjudul “Matematika Alam Semesta”. Dalam pembahasan buku ini, berbagai bilangan prima dan misterinya dijelaskan dengan detail. Mulai dari misteri angka itu sendiri yang mengungkap berbagai keunikan didalam alqur’an. Dengan  enkripsi-enkripsi bilangan tersebut keterkaitan bilangan prima dengan struktur penulisan ayat dan kata dalam alqur’an akan diketahui.

Buku karya Arifin Muftie ini berisikan sepuluh pembahasan. Pertama, membahas tentang keterpeliharaan Alqur’an. Bab pertama ini menjelaskan perjalan dari pendokumentasiaan dan penjagaan Alqur’an yang tetap terjaga dari keasliannya. Kedua, Alqur’an ‘Antisipasi ke Depan’, cukup jelaslah seperti judul babnya. Alqur’an berperan dalam antisipasi ke depan, terdapat berbagai peristiwa yang sebelumnya belum ditemukan oleh ilmuwan sudah dijelaskan terlebih dahulu didalam alqur’an, misalnya :

“Dia membiarkan kedua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”. (ar-Rahman [55]: 19-20)

Penulisan ini sudah terdapat di Alqur’an sebelum seorang ilmuwan Prancis Jacques Yves Cousteau meneliti laut Gibraltar dan menemukan sebah fakta bahwa pertemuan antara air dari Laut Mediteranian (Laut Tengah) dengan air dari Lautan Atlantik tidak bercampur, walaupun keduanya air asin. ini hanya salah satu contoh dari kesekian kali contoh yang sudah dijelaskan di dalam Alqur’an.

Untuk bab yang ketiga, Matematika dan Bilangan Prima. Seperti yang disinggung di awal penulisan. Akan terdapat banyak pengungkapan dan misteri bilangan prima.

Salah satu hal yang menakjubkan, dalam era komputer kita memberi­kan kodetifikasi semua hal yang penting dan rahasia, di bank, asuransi, dan perhitungan-perhitungan peluru kendali, security system dengan enkripsi, dalam angka jutaan bilangan-bilangan yang tidak habis dibagi oleh angka lainnya. Ini diperlukan ka­rena dengan penggunaan angka lain, kodetifikasi tadi dapat dengan mudah ditembus. Fenomena inilah yang ditemukan il­muwan dari Duesseldorf (Dr. Plichta), sehubungan dengan pen­ciptaan alam, yaitu distribusi misterius bilangan prima. (dikutip dari Matematika Alam Semesta).

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru dari Rumah Baca Cendekia

Join 11 other followers

Kunjungan

  • 10,753 kali
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.