You are currently browsing the monthly archive for October 2009.
Judul : Bidadari Bidadari Surga (Novel)
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Penerbit Republika
Tahun : 2008
Halaman : vi+368
Beruntung sekali Penerbit Republika masih memiiki dua penulis fiksi (tanpa bermaksud mengerdilkan penulis yang lain) yang tetap produktif menulis karya-karya terbaiknya. Yang satu, siapa lagi kalau bukan Habiburrahman El-Shirazy. Karya monumentalnya, Ayat Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, suksesnya bahkan merambah ke dunia film. Yang kedua adalah Tere-Liye, penulis novel best seller Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah. Kini, kita sedang membahas salah satu lagi karyanya, novel Bidadari Bidadari Surga.
Dikisahkan di lembah Lahambay, dekat Gunung Kendeng, di tengah-tengah Bukit Barisan, tinggallah keluarga Mamak Lainuri . Mamak tinggal bersama lima anaknya, Laisa, Dalimunte, Wibisana, Ikanuri dan Yashinta. Mereka hidup penuh keterbatasan. Sampai berangsur-angsur kehidupan keluarga membaik. Dalimunte sekarang adalah seorang profesor, namanya terdaftar dalam 100 peneliti fisika paling berbakat di dunia. Wibisana dan Ikanuri bekerja sama sebagai pemilik perusahaan modifikasi mobil. Yashinta adalah peneliti dari lembaga penelitian dan konservasi di bogor, ia juga koresponden foto National Geographic. Dan Laisa adalah perintis sekaligus pemilik perkebunan strawberry puluhan hektar, yang memenuhi separuh lembah Lahambay. Rumah Mamak yang dulunya reot kini berubah seperti villa indah. Dibandingkan masa-masa susah mereka, kehidupan mereka kini bahkan lebih dari sukses!
Tokoh utama dalam novel ini adalah Kakak Laisa, anak tertua. Secara fisik Laisa kurang beruntung dibanding adik-adiknya. Ini sangat mencolok. Bahkan Laisa jauh berbeda. Saat kecil pertumbuhan Laisa tidak normal. Badannya lebih pendek dibanding teman-teman seusianya. Wajahnya tak proporsional. Rambutnya gimbal dan kulitnya hitam. Perbedaan ini seperti menjelaskan kalau Laisa memang tidak memiliki hubungan darah dengan Dali, Wibi, Ikanuri dan Yash. Bahkan dengan Mamak Lainuri sendiri.
Sebenarnya Mamak Lainuri menikah dua kali. Pertama dengan seorang duda dengan bayi enam bulan. Bayi itu Laisa. Ayah Laisa memliki perangai yang buruk, suka minum minuman keras, kasar, suka main tangan. Suatu saat Laisa yang masih berumur sembilan bulan tercebur ke dalam baskom air. Ayahnya yang bertugas menjaga, malah tertidur pulas dengan mulut bau minuman keras. Beruntung Mamak Lanuri yang baru pulang dari kebun berusaha menyelamatkan nyawanya. Meski selamat, Laisa tumbuh tidak normal. Ayah Laisa memang tidak bertanggung jawab. Saat Laisa berumur dua tahun, ayahnya justru tega meninggalkan Laisa dan Mamak Lainuri. Pergi entah kemana.
Kemudian Mamak menikah lagi. Dari pernikahan kedua inilah lahirlah Dali, Wibi, Ikanuri dan Yashinta. Sayang, saat mereka masih kecil, Bapak mereka meninggal diterkam harimau Gunung Kendeng.
Meskipun kurang beruntung, alih-alih rendah diri dan menyesali nasibnya, Laisa justru menjalani hidupnya dengan indah. Mengisinya dengan berbuat baik, bersyukur dan berbagi. Menjadi pribadi penuh kerja keras, anak yang berbakti kepada orang tuanya, sekaligus seorang kakak yang menyayangi dan melindungi adik-adiknya. Perjuangan dan pengorbanannya mengantarkan dirinya sosok yang sangat istimewa bagi orang-orang disekitarnya.
Kak Laisa-lah yang mengenalkan berang-berang kepada Yashinta. Saat itu Yash baru enam tahun dan Laisa enam belas tahun. Demi menyenangkan adiknya itu, Laisa mengajak Yash merambah hutan menuju sungai tempat berang-berang itu biasa muncul. Berang-berang termasuk hewan pemalu, jarang-jarang suka muncul. Yashinta senang sekali bisa melihatnya. Anak sekecil itu. Dan berang-berang yang lucu.
Bagi orang lain ini mungkin bukan sesuatu yang tiak penting. Tapi bagi Laisa, asalkan itu demi adik-adiknya, ini urusan yang jauh lebih penting. Bagi Yash, jauh sebelum dia mendapatkan pelajaran biologi di sekolah atau kampus, ia sudah mendapatkannya lebih dulu dari seorang kakak sekaligus guru alamnya.
Suatu saat Dalimunte pernah membolos sekolah untuk memuaskan dirinya membuat kincir air di sungai. Dalimunte memang dari kecil tertantang dengan penemuan-penemuan yang aneh-aneh. Ketertarikan yang ikut membawa kepada Dalimunte dewasa, seorang profesor. Tapi untuk apa pun itu, membolos bukanlah alasan yang dapat dibenarkan. Kak Laisa yang tahu Dalimunte sedang membolos, tak bisa tinggal diam. Marahnya seketika,
“Kau anak lelaki Dalimunte! Anak lelaki harus seolah! Akan jadi apa kau jika tidak sekolah? Pencari kumbang di hutan sama seperti orang lain di kampung ini? Penyadap damar? Kau mau menghabiskan seluruh masa depanmu di kampung ini? Setiap tahun berladang dan berharap hujan turun teratur? Setiap tahun berladang hanya untuk cukup makan! Kau mau setiap tahun hanya makan ubi gadung setiap kali hama menyerang ladang? Huh, mau jadi apa kau, Dalimunte? “
Keras memang. Tapi kasih sayang tidaklah harus selalu bermakna kelembutan.
Kak Laisa baik sekali. Bahkan boleh dibilang terlalu baik. Saat menangkap basah dua sigung nakal, Wibisana dan Ikanuri mencuri mangga di kebun Wak Burhan, saat semua penduduk kampung bekerja bakti membuat kincir air di sungai, seperti biasa akhirnya Kak Laisa marah-marah. Biasanya mereka berdua akan menurut. Tapi sekarang Ikanuri berani melawan.
“Kami tidak mau pulang. Tidak Mau. Kau bukan kakak kami. Kenapa pula kami harus menurut!”
Seketika teriakan itu membuatnya beku.
“Kau bukan kakak kami! Kenapa pula harus menurut”
“Lihat! Kulit kau hitam. Tidak seperti kami, yang putih. Rambutmu gimbal. Tidak seperti kami, yang lurus. Kau tidak seperti kami, tidak seperti Dalimunte dan Yashinta. Kau bukan kakak kami. Kau pendek! Pendek! Pendek!”
Kata-kata itu bertubi-tubi menusuk hati Laisa.
“Kau bukan kakak kami”
Meski Laisa berusaha menghentikan.
“Hentikan Ikanuri! Hentikan…”
Kata-kata Ikanuri semakin lantang.
“Kau jelek! Jelek! Jelek!”
“Pendek! Pendek!”
Saat Wibi dan Ikanuri beranjak pergi, Laisa hanya bisa bisa jatuh tertunduk. Menahan tangis. Betapi sedihnya Laisa. Sedih sekali.
Kak Laisa berhak bersedih. Dia memang bukan kakak mereka. Seluruh penduduk lembah juga tahu itu. Tapi tega sekali Ikanuri mengatakannya. Satu kesempatan, dimana dia berhak untuk bersikap lebih keras kepada adik-adiknya, Laisa bahkan tak melakukan apa-apa. Daya pengampunan, ketegaran sekaligus rasa kasing sayang yang luar biasa.
Dua sigung ini, Wibi dan Ikanuri memang bebal. Mereka ceroboh memasuki hutan Gunung Kendeng. Pikir mereka itu jalan pintas menuju kota kecamatan. Padahal di hutan itu tinggal harimau-harimau yang berbahaya. Ayah mereka pun meninggalnya juga karena diterkam harimau.
Dan benar…Mereka kini berhadapan dengan bahaya. Berhadapan dengan harimau-harimau buas. Beruntung ada Laisa. Saat situasi segenting itu, saat ketakutan memuncak, datanglah Laisa yang entah mendapat kekuatan dari mana tiba-tiba muncul mengacung-acungkan obor menghalau harimau-harimau yang siap menerkam dua adiknya itu.
Kejadian itu menyadarkan Wibi dan Ikanuri. Laisa kepada Wibi dan Ikanuri, saat pulang dari hutan,
“…Suatu saat nanti kalian akan melihat betapa hebatnya kehidupan ini…Betapa indahnya kehidupan di luar sana. Kalian akan memiliki kesempatan itu, yakinlah…Kakak berjanji akan melakukan demi membuat semua ini terwujud…”
Laisa menyebut berulang-ulang, “Bekerja keras, bekerja keras,bekerja keras” Kata-kata yang membekas dan akan selalu diingat oleh Wibi dan Ikanuri.
Kak Laisa selalu menunaikan janji-janjinya. Bahkan demi adik-adiknya, Laisa memutuskan untuk berhenti sekolah. Laisa tidak pernah menyesal. Ia tulus. Sepanjang hari rela terpanggang terik matahari di ladang. Bangun jam empat membantu Mamak memasak gula aren. Menganyam rotan hingga larut malam. Tidak henti, sepanjang tahun. Mengajari adik-adiknya disiplin, kerja keras dan mandiri. Mamak Lainuri beruntung dapat mengurus keluarganya dengan bantuan putri sulungnya ini.
Keterbatasan fisik membuat Laisa-karena tidak kunjung mendapatkan jodoh-harus merelakannya dirinya dilintas adik-adiknya. Dalimunte, Wibisana dan Ikanuri sebenarnya berat melintas kakaknya. Tapi Laisa-lah yang kemudian memaksa mereka agar tak menunda niatnya untuk menikah. Bukannya tanpa usaha, perjodohan-perjodohan yang dilakukan tak pernah berujung pada pernikahan Laisa.
Satu hari sebelum pernikahan Wibisana dan Ikanuri (mereka menikah bersama) Laisa batuk darah di kamar mandi. Kejadian itu hanya Mamak Lainuri yang tahu. Laisa memang meminta Mamak untuk tidak menceritakan kepada yang lain. Saat diperiksakan ke rumah sakit, Laisa ternyata mengidap kanker paru-paru stadium satu. Seperti itu, ia berusaha untuk selalu tegar.
Ia menyimpannya sendiri rahasia itu bertahun-tahun, sampai penyakit itu menggoroti tubuhnya. Membuatnya lemah terbaring di tempat tidur. Kondisinya sudah sangat kritis. Seluruh keluarga berkumpul menungguinya sambil memberinya semangat. Dalimunte, Wibisana, Ikanuri ikut membawa serta istri dan anak-anaknya.
Semakin hari semakin lemah. Dan di saat-saat itu, sebelum ajal menjemputnya ia masih sempat meminta adiknya yang terakhir, Yashinta, untuk menikah di depannya. Itulah pernikahan terakhir di keluarga ini. Menandai perginya Kak Laisa untuk selamanya. Seluruh keluarga dan masyarakat Lahambay merasa kehilangan yang sangat atas kepergian sosok yang istimewa dan dihormati ini.
Novel ini menguras emosi pembacanya. Benar-benar mnenyentuh. Tere-Liye pintar membawa alur bolak balik antara kehidupan sekarang dan kehidupan masa lalu mereka. Mengharukan memang, sampai-sampai Ratih Sang dalam endorsement-nya menulis
“Buku ini sarat makna akan kerja keras, pengorbanan dan penghormatan. Air mata saya menetes deras ketika mata dan angan saya sampai pada halaman 62. Saya ingin seperti Laisa…”
Terakhir, ada baiknya kita dengarkan apa yang dituliskan penulis novel ini dalam epilognya,
“Wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinlah, wanita-wanita salehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. Kelak di hari akhir sungguh akan menjadi-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa.” (sam)

Judul : Leaving Microsoft to Change The World
Penulis : John Wood
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun : 2007
Hal : x + 368
Leaving Microsoft to Change The World, inilah memoar yang merekam perjalanan menakjubkan dari seorang John Wood, mantan eksekutif Microsot melalui lembaga Room to Read-nya. Pada tahun buku ini diterbitkan, Room To Read telah melebarkan sayapnya hingga mencapai 3600 perpustakaan di Asia. Mendirikan perpustakaan sebanyak itu apalagi di benua berbeda dari benua asal pendirinya adalah prestasi yang luar biasa.
Segalanya memang tidak mudah. Hal ini pun diakui oleh John Wood sendiri. Termasuk keputusan yang paling berat, meninggalkan posisi seorang eksekutif di Microsoft, perusahaan teknologi terkemuka, kemudian menjadi seorang pendiri perpustakaan sosial. Di saat pencapaian yang sudah diraihnya, gaji tinggi, mobil dan pengemudi sehari penuh, pilihan saham dan mandat penuh untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia dengan biaya perusahaan, ini tentu bukan keputusan yang mudah.
Ternyata satu kunjungan wisata ke Himalaya-lah yang mengubah perjalanan hidupnya. Di sana John dihadapkan pada kondisi masyarakat yang membutuhkan uluran tangannya. Kondisi pendidikan yang sangat jauh berbeda dari apa yang dia dan lingkungannya alami di Amerika. Di tempat itu, Nepal, sekolahnya parah, lantainya tanah, atapnya seng, anak-anak duduk berdesak-desakan. Karena kekurangan bangku, mereka meletakkan buku catatan di atas lutut.
Terlebih, saat mengunjungi perpustakaan, dilihatnya tak ada satu bukupun di sana. Ternyata, buku-buku itu karena sedikitnya, menjadi sangat berharga. Pihak sekolah memutuskan untuk menyimpannya di suatu tempat karena takut anak-anak merusak buku-buku itu.
Bagi John, pemandangan yang memprihatinkan ini membuatnya miris. Hasil diskusi dengan guru-guru adalah harapan agar John suatu saat akan kembali dengan berbagai permintaan buku. Buku cerita, buku tentang binatang, buku pelajaran abjad, geografi dan buku-buku lain yang dibutuhkan. Mereka memohon kepada John dengan permohonan yang sangat. Dan John pun berjanji akan kembali dengan buku-buku itu.
Babak baru kehidupan John berikutnya adalah masa-masa bersama Room to Read, lembaga nirlaba yang didirikannya. Bukan hanya buku untuk satu sekolah, tapi banyak sekolah. Bahkan ke beberapa negara. Aktivitas John mulai membuat permintaan, mengumpulkan buku, fundrising, membangun jaringan sampai melihat pelaksanaan di lapangan. John memang tidak lagi bekerja di Microsoft, tapi kini dia adalah CEO dari sebuah perusahaan, meski perusahaan nirlaba.
Proyek ini tentu sudah ada dalam pikirannya. Ide sederhanya adalah pada perbedaan tingkat kemakmuran antara Amerika dan negara di Asia. Sekecil berapa pun nominal uang di Amerika, dapat digunakan untuk membeli lebih banyak buku di Asia. Dan proyek pun berjalan meski disertai kesulitan dan penolakan yang menyakitkan, sampai proyek berhasil dan mendapatkan pengakuan.
Bagi John, kehidupan inilah yang disyukurinya. Mengikuti panggilan hatinya untuk memberi harapan pada dunia pendidikan di negara yang membutuhkan. Tak hanya Nepal, Room to Read merambah sampai ke Kamboja, India dan Srilanka. Sampai sekarang entah berapa jumlah tepatnya. Sekolah-sekolah dibangun. Ribuan perpustakaan didirikan. Jutaan buku didonasikan. Dan ribuan anak-anak mendapat beasiswa.
Dunia memang tempat berbagi. Bagi orang yang menikmati petualangan, jarak bukanlah halangan. Dari Amerika ke Asia, John Wood bersama orang-orang yang terlibat dalam proyek Room to Read telah berhasil merealisasikannya. Hebat! (sam)

Komentar Terbaru