bulan-antara-bumi-matahariJudul Buku : Mengusir Matahari

Penulis       : Kuntowijoyo

Kuntowijoyo merupakan salah satu begawan kebudayaan Indonesia. Karya-karya beliau banyak dijadikan rujukan serta contoh berbagai karya tulis, terlebih tulisan beliau mengenai kebudayaan dan persejarahan. Tak heran bila Prof. Sartono Kartodirjo menyebutkan bahwa karya-karya beliaulah yang paling lengkap mengupas tentang pelbagai kebudayaan dan persejarahan Indonesia.
Nah, salah satu bukunya ini juga bercerita akan hal yang sama. Bercerita mengenai kondisi perpolitikan Indonesia di saat Pemerintahan Soeharto bertahta. Pelbagai peristiwa yang melingkupi era “smilling general” ini terekam dengan baik dalam tulisan-tulisan lainnya. Seperti Peristiwa Sabtu kelabu, dimana terjadi konflik antara PDI Soerjadi dengan PDI Megawati Soekarnoputri, penembakan misterius (PETRUS) serta kerusuhan Mei 1998.
Namun, semua peristiwa tersebut tidak digambarkan sebagaimana yang kita bayangkan. Beliau tidak menerjemahkannya menjadi semacam essay atau analisis panjang yang bertele-tele. Akan tetapi, digubah menjadi semacam cerita fabel dengan tokoh-tokohnya para binatang penghuni rimba. Ada singa sang penguasa, si kancil sebagai tokoh oposisi, si gajah sekutu dekat sang singa. Serta para rakyat yang multikultural. Ada monyet yang egois, ular yang apatis terhadap permasalahan pemerintahan hutan tersebut serta beberapa kijang yang suka “menjilat” pemerintahan.
Salah satu adegan cerita yang menarik adalah implementasi dari Peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Saat itu kondisi hutan sangat parah, banyak manusia mulai merangsek masuk ke hutan untuk menebangi pohon dan mencuri anak kijang. Hal tersebut ditambah dengan sungai yang mulai mengering, dedaunan mulai meranggas kekurangan zat gizi. Serta pecah konflik antara pendukung Raja Singa dengan barisan oposisi. Tekanan terhadap Singa semakin menguat ketika sang manusia tidak hanya menangkapi anak kijang, tetapi juga anak gajah, anak kancil, serta anak-anak binatang lainnya. Para binatang yang merasa keturunannya terancam mengadakan aksi demo besar-besaran, mereka beriringan ke seluruh hutan sambil mengadakan orasi terbuka, dengan intinya sama. Turunkan sang Raja Singa dan perbaiki keadaan hutan yang mulai kacau.
Akhirnya, di depan istana raja. Sang kancil sebagai juru bicara demonstran bernegosiasi dengan raja Singa. Walaupun berjalan alot, namun dari perundingan tersebut membuahkan hasil bahwa sang raja akan turun tangan menangani perkara pengrusakan hutan oleh manusia. Ketika perundingan berlangsung antara Raja Singa dengan manusia di pinggir hutan, aksi demonstrasi menuntut raja turun semakin menghebat, kali ini hewan-hewan yang berada di udara mulai ikut-ikutan, antara lain monyet, ular, burung serta beberapa kelelawar. Mereka tetap meneriakkan bahwa sang raja harus turun karena gagal menangani krisis hutan.
Hasil perundingan antara manusia dengan Raja Hutan akhirnya menemui kegagalan. Manusia tetap ngotot akan membuka hutan bahkan mengancam akan membakar sekalian. Namun, kompromi Singa agar manusia pindah lokasi penebangan tidak digubris sama sekali. Dengan demikian sang raja mulai stress. Tekanan dalam negeri yang menghendaki dirinya turun semakin menghebat, sementara perundingan luar negerinya juga buntu.
Keesokan harinya, raja mengumumkan pengumuman penting akan suksesi kepemimpinannya. Ia menyarankan rakyatnya agar segera berpindah hutan saja agar semuanya selamat dari bahaya. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh pihak oposisi dan malah mengancam akan membakar istana raja.
Alhasil raja pun semakin ketakutan. Serta merta Ia mengambil jalan terakhir yang dipunyainya. Ketika truk tronton dan traktor-traktor bermesin mulai terdengar menebangi pohon-pohon. Sang raja, Singa. Yang telah memegang pemerintahan bertahun-tahun lamanya, akhirnya melarikan diri ke hutan lain bersama orang-orang kepercayaannya. Sementara negeri yang ditinggalkannya semakin mengalami krisis hebat dinamakan krisis multidimensional.
Demikian, Kuntowijoyo menyajikan kritikannya atas penguasa melalui sebuah cerita fabel yang tertata apik, dengan bumbu-bumbu politis yang seolah-olah nyata dalam kehidupan para hewan. Beliau mengatakan dalam pengantarnya, bahwa sengaja dipilih judul “Mengusir Matahari”. Alasannya adalah agar pemerintahan orde baru yang nampak menerangi masyarakat dengan semu itu segera pergi karena diusir oleh masyarakat sendiri.
Buku setebal kira-kira seratus halaman tersebut menceritakan hampir tiga puluhan cerita fabel. Kesemuanya bercerita mengenai kondisi perpolitikan Indonesia di masa Presiden Soeharto.

(Subandi Rianto, 0812 2779 7042, Ilmu Sejarah-UNAIR)