You are currently browsing the monthly archive for June 2010.
Allah yang Menentukan…
Judul Buku : Sandiwara Langit
Penulis : Abu Umar Basyir
Penerbit : Shofa Media Publika
Tahun Penerbitan : 2oo8
Kota Penerbitan : Magelang
Tebal Buku : 212 halaman
Sandiwara Langit, Sebuah Kisah Nyata Bertabur Hikmah Penyubur Iman. Kisah ini berawal ketika seorang pemuda shalih bernama Rizqaan ingin menikah. Dari kondisi ekonomi, Rizqaan bukanlah pemuda atau berasal dari keluarga kaya, ia pun belum punya pekerjaan tetap. Dari segi pendidikan, Rizqaan hanya lulus SMA. Usiannya pun masih 18 tahun.
Pernikahan Rizqaan dengan Halimah, seorang wanita shalihah, anak dari keluarga kaya, diawali dengan sebuah akad yang aneh, akad yang setelahnya diucapkan syarat: bahwa apabila dalam jangka sepuluh tahun menikah, kehidupan ekonomi mereka berdua tidak menjadi baik, mapan, dan stabil, Rizqaan harus menceraikan istrinya secara sukarela.
Beberapa bulan pertama mengarungi kehidupan rumah tangga adalah masa yang sangat sulit bagi Rizqaan dan Halimah. Namun, Rizqaan adalah pekerja keras, didampingi istrinya yang senantiasa memotivasi dan sangat pengertian, perlahan perekonomian keluarga pun akhirnya meningkat, sangat meningkat. Jalan kehidupan keluarga, tak mulus tentunya, banyak keriki-kerikil tajam yang harus dilewati. Memasuki tahun kesepuluh, Rizqaan dan keluarganya bisa hidup mapan, produksi rotinya meningkat. Bila mereka bisa bertahan, rumah tangga itu akan utuh. Itulah kebahagiaan yang mereka tunggu-tunggu.
Sampai musibah itu, musibah di malam bulan keduabelas, tahun kesepuluh, hari yang keduapuluh delapan, dua hari lagi perjanjian berlangsung. Kebakaran menghanguskan semuanya. Dan bagaimanakah kelanjutan dari perjanjian itu? Akankah berakhir begitu saja? Bisakah Halimah mewujudkan keinginannya seperti yang disebutkan dalam hadits:
“Wanita manapun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk Surga.”
Sungguh, ending yang mengharukan.
Dikisahkan dengan bahasa yang sederhana, lugas, dijelaskan lengkap dengan dalil Al Quran dan Hadits, novel ini tidak hanya menyuguhkan sebuah kisah biasa, tapi juga memperkaya, memantapkan iman dan wawasan keislamann pembaca. Sekali lagi, Sandiwara Langit, Sebuah Kisah Nyata Bertabur Hikmah Penyubur Iman. Ya itulah kisah dalam novel ini.
Kehidupan dunia hanyalah permainan, bagai sandiwara, tidak ada yang kekal. Semua bisa diputarbalikkan. Kita tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa berikhtiar, menggapai kebahagiaan dunia untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang kekal.
Sangat lebih baik, jika Anda membaca sendiri novel ini. Lebih menyentuh tentunya. Selamat membaca. (Nurul Efha)
Kan Ada Kekuatan Itu…
Judul Buku : Moga Bunda Disayang Allah
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Republika
Tahun Penerbitan : 2oo6
Kota Penerbitan : Jakarta
Tebal Buku : 247 halaman
Senyap. Gelap. Hitam. Melati menatap ke arah jutaan kunang-kunang yang terbang.
Sayang, gadis kecil itu tidak akan pernah melihatnya……
Melati, bocah berumur enam tahun yang menggemaskan, berambut ikal, berpipi tembam, bermata hitam bagai buah leci, yang seharusnya bisa bermain, bisa melihat indahnya kehidupan, tapi tidak baginya. Dia hanya melihat gelap, tidak ada warna. Dia hanya mendengar senyap, tidak ada suara.
Setelah piring terbang, brisbee, menghantam dahinya, putus semua kesenangan. Liburan yang menyenangkan di Palau, Mikronesia berakhir dengan amat menyakitkan. Saat itu, Melati masih berusia tiga tahun, masih lucu-lucunya. Tapi, sejak saat itu, keterbatasan Melati mulai datang satu per satu. Melati pelan-pelan mulai buta. Seminggu kemudian, melati juga mulai tuli. Belum cukup. Melati juga kehilangan semua pengetahuan yang pernah dipelajarinya selama ini.
Bunda, seorang ibu yang baik, sangat sabar, tidak pernah berhenti berdo’a, berharap keajaiban Tuhan datang. Berbagai cara dilakukan. Tim dokter dari rumah sakit ternama ibu kota pun sudah didatangkan. Tapi, tak ada hasilnya. Kondisi Melati malah memburuk. Setiap hari mengamuk, menggerung. Melempar apa saja di sekitarnya. Pecah. Hingga Bunda yang mulai sakit-sakitan, lelah memikirkan keterbatasan putri semata wayangnya, hampir putus asa.
Sampai suatu ketika, pertolongan itu datang. Janji Allah, bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan, benar-benar datang. Lewat Karang, pemuda yang sangat mencintai anak-anak, yang bisa merasakan sentruman itu, kejaiban itu datang. Melalui proses yang rumit dan panjang. Pengalaman pahit, meninggalnya 18 anak kecil di lautan luas, mengambang beku, sempat membuat pemuda itu jatuh dalam keterpurukan, terkungkung oleh rasa bersalah. Sampai, cahaya perubahan itu datang kembali. Karang berjanji akan membantu Melati. Melawan keterbatasannya. Menunjukkan pada semua orang bahwa Tuhan itu adil.
Sungguh novel yang mengharukan, diangkat dari kisah nyata, yang membuat hati ini menangis. Novel ini sarat makna, dengan bahasa yang unik, membawa pembaca larut dalam kisah novel, juga ada sisi humornya.
Membaca novel ini, membuat kita semakin bersyukur. Melati dengan keterbatasannya, buta, tuli, bisu, yang seakan terputus dari dunia karena tak ada alat berkomunikasi, harus membayar mahal untuk bisa mendengar, melihat indahnya dunia. Melati terjatuh berkali-kali. Sakit demam. Sampai tubuhnya luka-luka terkena pecahan tembikar. Melati harus melewati proses belajar yang sulit, menyakitkan Tapi, ada kekuatan dalam diri Melati, ada harapan, ada semangat yang membuncah untuk mengetahui segala hal. Sementara kita?
Novel ini juga membuat kita lebih mencintai Allah dan hamba-hamba-Nya. Ada hikmah di balik semua krisis itu. Saat musibah datang mencekik, saat diri terlalu lelah, saat asa seakan sirna, tetaplah berpikir positif kepada-Nya. Berikan usaha yang terbaik. Jauh di atas segalanya, Allah telah merajut yang terbaik untuk hamba-Nya.
Akan lebih menyentuh jika Anda membaca sendiri novel ini. Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca oleh masyarakat luas. Semoga kita akan semakin mengerti hakikat kebahagiaan itu. Dan menjadi hamba yang senantiasa mencintai sesama kerena-Nya.
(Nurul Faiqotul Himma, Mahasiswa Teknik Kimia ITS)



Komentar Terbaru