Judul buku : Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara

Penulis : Ahmad Yunus

Penerbit : Serambi, Jakarta

Cetakan : I (pertama), Juli 2011

Tebal : 370 halaman

Tidak banyak yang tahu, antara Juni 2009 sampai Juni 2010, dua orang jurnalis Indonesia mengelilingi Nusantara untuk ekspedisi yang mereka namakan “Zamrud Katulistiwa”. Dua orang itu adalah Ahmad Yunus dan Farid Gaban.

Tapi, jangan bayangkan ekspedisi ini selalu melewati jalur utama dengan kondisi jalan yang mulus dan nyaman. Atau, berpindah-pindah pulau menggunakan alat transportasi dengan fasilitas lengkap. Alih-alih demikian, mereka harus melewati jalur terluar kepulauan Indonesia dengan kondisi medan tidak tentu. Bahkan di beberapa tempat kondisinya bisa sangat ekstrem. Untuk itu mereka menyiapkan dua sepeda motor Honda Win yang dimodifikasi mirip motor trail. Hanya itulah alat transportasinya. Selebihnya mereka lebih banyak menggunakan kapal laut seadanya untuk menjangkau banyaknya pulau-pulau kecil, utamanya di Indonesia bagian timur.

Diawali dari Tugu Monas Jakarta, berikutnya mereka menempuh jalur Lampung-Teluk Kiluan-Bengkulu-Pulau Enggano-Kep. Mentawai-Padang-Tapanuli-P. Nias-P. Simeuleu-Banda Aceh-Sabang-Medan-Selat Indonesia-P. Penyengat-P. Natuna-Pontianak-Sintang-P. Karimata-P. Derawan-Nunukan-Tarakan-Makasar-Takabonerate-Wakatobi-P. Banggai-P. Togean-P. Miangas-Ternate-Raja Ampat-Banda Neira-Merauke-Rote-Flores-Sidoarjo-Cirebon-Bandung-Jakarta.

Ekspedisi ini bukan untuk tujuan pelesiran semata. Kalaulah demikian mereka tak perlu susah-susah melewati jalur yang sulit, menyambangi pulau-pulau kecil dan jauh, membelah pulau hanya dengan sepeda motor, menerobos hutan, berpetualang dengan fasilitas dan gaya ala backpacker (bukan bagpacker), dan berinteraksi dengan warga setempat. Sejatinya, mereka ingin memotret realitas wajah Indonesia yang apa adanya. Bukan dari kacamata pusat kota yang bisa saja menyembunyikan kenyataan daerah pinggiran yang sesungguhnya.  Mereka perlu mendapatkan hasil yang jujur dengan usaha yang lebih keras dan penggalian yang lebih dalam.

Hasilnya, di satu sisi mereka menemukan betapa Indonesia kaya dengan segala sumber daya alam lengkap dengan sosial budayanya. Mereka bertemu dengan pemandangan yang eksotik : rombongan lumba-lumba di Teluk Kiluan dan Raja Ampat, rumah Omo Hada di Nias, ubur-ubur jinak di Kakaban, Wakatobi dan Suku Bajo, Banda Naira dengan palanya yang terkenal.  Di sisi lain mereka menemukan praktek pemalakan oleh aparat di Selat Malaka, sisa-sisa penggundulan hutan di Mentawai, penggunakan kompresor sebagai alat bantu menyelam yang berbahaya di Takabonerate dan tempat lain (tidak ada dalam buku ini, saya baru tahu di Kenjeran, Surabaya, nelayan ternyata juga menggunakan alat yang serupa untuk mendapatkan kerang kapak).

Yang lebih parah lagi sebenarnya ada pada potret wilayah terluar Indonesia. Pulau Enggano, Mentawai, Natuna, Nunukan, Miangas di antaranya. Tampak jelas kesenjangan pembangunan yang terjadi di sana. Kemiskinan, fasilitas pendukung yang tidak memadai, infrastruktur yang hanya sebatas janji pemerintah. Kesannya mereka seperti terlupakan. Atau dilupakan.

Sekilas, demikianlah yang disampaikan Ahmad Yunus. Bisa jadi memang demikian sebenarnya wajah Indonesia kita. Apa adanya. Jika selama ini kita menyaksikan gemerlap hidup di pusat kota dengan berbagai kemudahan falisitas di dalamnya, belum tentu mewakili kemajuan pembangunan yang sebenarnya di daerah lain.  Pulau-pulau yang sendiri, kecil, dan luar itu adalah bagian yang luput dari perhatian. Meskipun tanpa perhatian itu pun mereka akan terus melanjutkan hidup. Dengan cara mereka sendiri.

Perjalanan ini tentu semakin membuka wawasan kita tentang potret Indonesia yang selama ini tidak kita ketahui. Membacanya membuat kita semakin dekat dengan Indonesia. Rasanya, jika kita sendiri yang melakukan perjalanan ini maka akan dapat menambah kekayaan pengetahuan, emosi maupun spiritualitas.

Saya suka bagaimana Ahmad Yunus bercerita tentang kisah perjalanannya bersama Farid Gaban dalam buku ini. Lengkap dengan kejujurannya, apa adanya, blak-blakan, sekaligus kekritisannya menyindir apa dan siapa yang menurutnya kurang sesuai. Gaya penulisan jurnalisme sastrawinya membuat ceritanya terasa mengalir. Dan jika masih kurang, tersedia versi singkatnya dalam format DVD (diselipkan menjadi satu paket dalam buku ini).

Setiap petualangan boleh jadi akan berawal dari satu titik dan berakhir di titik yang sama atau berbeda. Tapi, biasanya, perjalanan bersama pengalaman-pengalaman di dalamnya akan menjadi sesuatu yang lebih berkesan ketimbang tujuan itu sendiri. Jika tidak percaya cobalah sendiri untuk berpetualang. Tentu bukan sekedar petualangan. Tapi petualangan yang menantang. Seperti petualangan dua anak Indonesia, Ahmad Yunus dan Farid Gaban.

(Sam, September 2011)

Advertisement