You are currently browsing the monthly archive for February 2012.
Judul Buku : One Amazing Thing
Penulis : Chitra Banerjee Divakaruni
Penerbit : Qanita, Jakarta
Cetakan : I, Juni 2011
Tebal : 422 halaman
Bencana terjadi ketika salah satu tangan Aron Ralston tertimpa batu sesaat setelah ia melompat ke dalam rekahan di Grand Canyon. Naasnya batu tersebut tak bisa dipindah. Berhari-hari dia bertahan sendirian dengan perbekalan seadanya sambil mencari jalan keluar dari jebakan alam tersebut; mengangkat batu dengan tali, mengikis batu sedikit demi sedikit menggunakan pisau, meskipun ia sadar batu itu besar dan berat, dan tidak bisa dipindah apalagi hanya menggunakan satu tangan saja. Untuk membunuh kebosanan ia melakukan apa saja yang membuatnya sibuk, jika tidak secara fisik, ia menyibukkan pikirannya mengenang kejadian-kejadian penting dalam hidupnya, atau memikirkan keinginan-keinginannya di kemudian hari.
Waktu terus berjalan. Saat tubuhnya melemah Aron mengambil keputusan penting sekaligus ekstrem untuk menyelamatkan hidupnya: memotong tangannya sendiri. Terdengar sadis memang, tapi tak ada cara lain. Dengan tenaga tersisa ia melanjutkan menyusuri rekahan tersebut demi menemukan titik tujuan petualangannya. Ia sampai dan menemukan air di dekatnya, dan yang lebih penting lagi akhirnya ia mendapatkan pertolongan.
Itulah kisah nyata Aron Ralston, seorang penggemar canyoneering dan mountaineering, seperti yang ia tulis sendiri dalam buku Between a Rock and a Hard Place yang kemudian difilmkan dalam 127 Hours.
Lalu, apa hubungan kisah di atas dengan novel yang kita bahas? Ceritanya mirip. Diceritakan, gempa besar tiba-tiba mengguncang hebat saat beberapa orang berada di kantor imigrasi India di Amerika.
Dalam waktu singkat ruangan menjadi berantakan, struktur bangunan rusak berat. Kondisinya berubah drastis. Sekarang mereka dalam bahaya. Reruntuhan di mana-mana. Belum lagi ancaman reruntuhan dari struktur yang berasal dari atas. Genangan air dari pipa yang pecah memenuhi ruangan, semakin lama semakin meninggi.
Mereka menggunakan cara masing-masing untuk keluar dari reruntuhan tersebut. Tapi usaha mereka tak terlalu berguna. Akhirnya, mereka sepakat saling membantu. Mengumpulkan makanan dan minuman dan membagikan ke setiap orang, membantu yang cedera, dan dalam bentuk yang lain. Tak terasa bencana itu menyatukan mereka. Mereka menjadi lebih mengenal satu sama lain.
Semakin lama, bantuan yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Sementara kondisi semmakin memburuk, air semakin meninggi. Di saat-saat seperti itulah seorang tokoh dalam novel ini, Uma, berusaha memecah kebuntuan dengan mengusulkan agar setiap orang menceritakan satu kisah yang berkesan dalam hidupnya. Awalnya ada beragam kekhawatiran tentang usul Uma dalam benak dan fikiran mereka. Setelah bercerita mereka justru menikmatinya, paling tidak mereka telah melepaskan semacam beban sebelum kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Hasilnya mereka bergantian menceritakan pengalaman hidup yang mereka rasa paling berkesan. Dari satu cerita mereka tertarik untuk menanggapi, menanyakan untuk mengetahui lebih dalam, dan bonusnya mereka mendapatkan simpati.
Ada 9 tokoh dalam novel ini. Menurut saya penulis berhasil mempertemukan mereka dalam satu setting tempat dan kejadian dengan cerita yang kuat. Mereka berasal dari latar belakang yang bermacam-macam, tapi itu tak membuat penulis kekurangan deskripsi. Sebagai contoh, penulis menceritakan kehidupan seorang muslim sebaik ketika ia menceritakan seorang hindu. Pun bagaimana ia menggambarkan tokoh baik yang berasal dari etnis india, kulit hitam, atau seorang china yang tinggal di India. Semuanya terasa lancar.
Kekuatan lain dari novel ini terletak pada cerita masing-masing tokoh. Terkesan tidak biasa, sederhana tetapi sarat dengan nilai sosial budaya yang kuat. Mohon maaf, saya tidak tidak akan mengisahkan ulang cerita mereka dalam tulisan ini karena akan demikian panjang. Saya lebih tertarik mengambil satu pelajaran dari novel ini : dalam kondisi sesulit apa pun, kita tidak boleh kehilangan harapan. Dan, ketika melihat orang lain mengalami kesulitan, kita membantu untuk menguatkan harapan itu tanpa melihat siapa mereka, dari mana mereka, dan balasan apa yang akan kita dapatkan.
Anda mungkin akan sedikit kecewa karena tidak menemukan akhir cerita yang benar-benar selesai. Kita tidak tahu apakah akhirnya mereka selamat atau tidak. Mungkin saja bagi penulis bagian itu tidak begitu penting. Bagaimanapun, buku ini menarik untuk dibaca. Bagi saya, ini sekaligus kado di akhir tahun yang berharga. Terima kasih.
(Sam, Jakarta, 2 Desember 2011)

Komentar Terbaru