You are currently browsing the tag archive for the ‘Manajemen’ tag.

Judul buku : The 7 Laws of Happiness : Tujuh Rahasia Hidup Yang Bahagia

Penulis : Arvan Pradiansyah

Penerbit : Kaifa, Bandung

Cetakan : I, April 2010

Tebal : 420 halaman

Libur 2 hari karena faringitis memiliki arti lain bagi saya. Ternyata saya malah memiliki waktu lebih banyak sampai bisa menyelesaikan membaca buku The 7 Laws of Happines. Bayangkan untuk menghabiskan 1 buku ini saja masak sampai memerlukan waktu 2 bulan.

Buku ini juga istimewa karena susah untuk mendapatkannya. Kebetulan di kota tempat saya bekerja saat ini tidak ada toko buku yang menjual buku-buku update. Untuk ke ibu kota provinsi perlu 5 jam perjalanan. Maka, toko buku online-lah solusinya. Harus bersabar memang, butuh 5 hari untuk menunggu buku sampai sejak hari pertama dipesan.

Arvan Prdiansyah, dulu saya suka mendengarkan suaranya lewat talkshow “Smart Happiness” di SMART FM. Dan sekarang saya beruntung dapat menikmati salah satu bukunya.

Membaca judul buku ini, sepintas mengingatkan kita pada The 7 Habits-nya Steven R. Covey. Dengan jujur Arvan mengakui bahwa sedikit banyak dia dipengaruhi oleh buku tersebut. Jika dibandingkan, akan ditemukan persamaan dalam hal struktur, proses pendewasaannya, dan isi (content) buku. Hanya saja jika The 7 Habits berkaitan tentang memilih tindakan, The 7 Laws adalah tentang memilih fikiran.

Ketujuh rahasia yang dimaksudkan Arvan adalah sabar (patience), syukur (gratefulness), sederhana (simplicity), cinta (love), memberi (giving), memaafkan (forgiving), dan berserah (surrender). Tiga yang pertama berkaitan dengan intrapersonal relation, 3 berikutnya berkaitan dengan interpersonal relation, dan terakhir berkaitan dengan God relation.

Berserah adalah bentuk tertinggi dari kepercayaan (trust) kita kepada Tuhan. Tidak cukup dengan  percaya bahwa Tuhan itu ada, lebih dari itu kita percaya bahwa Ia senantiasa melindungi, percaya bahwa Ia Maha Mengetahui segala sesuatu, dan percaya bahwa Ia memilihkan yang terbaik untuk kita. Berserah adalah percaya secara total, dari seluruh sisi dan dimensi.

Yang menarik dari buku ini selain dari isinya adalah pegemasannya. Buku ini kaya akan ilustrasi, tata letak kreatif, penekanan, dan kata-kata inspiratif. Ditambah bonus CD, seolah-olah buku ini tampil dengan kesan penting, tapi ringan dan menyenangkan.

Bacalah! Seperti komentar Jansen H. Sinamo “…filosofinya perennial, ajarannya universal, presentasinya konseptual-logikal, dan bahasanya sangat renyah dan populer. Belilah, bacalah, dan amalkanlah. Niscaya Anda akan beruntung seribu kali!” (sam)

The Rich Plan

Judul : The Rich Plan
Penulis : Supardi Lee
Penerbit : Pustaka Inti, Bekasi
Cetakan : Pertama, Agustus 2007
Tebal : xiv + 168 hal

Bagi sebagian orang,  “kaya” sering diartikan sebagai kepemilikan terhadap harta yang melimpah. Uang, rumah, mobil adalah  indikator yang digunakan untuk  mengukur apakah seseorang dianggap kaya atau tidak. Sudut  pandang demikian mungkin yang umum dipahami oleh sebagian kita. Memang tak sepenuhnya salah, hanya akan menjadi bermasalah jika kita tidak bisa melihatnya secara utuh. Jika semata-mata kaya didasarkan kepada materi atau hal-hal yang bersifat fisik , orang tidak mampu menggali atau melupakan hal-hal di luar ukuran tersebut, yang dapat melengkapi hidupnya, menjadi semacam penyeimbang sehingga seseorang menjadi bahagia.

Menurut Supardi Lee, kaya yang sejati didefinisikan berdasarkan 5 parameter :
Kaya secara fisik
Kaya secara fisik berkaitan dengan kepemilikan barang-barang fisik. Seperti yang telah dicarakan sebelumnya, ukurannya bisa seperti uang, rumah, mobil dan sebagainya.
Kaya secara finansial
Secara finansial, seseorang dikatakan kaya bila:
Total aset > total utang
Pendapatan terus meningkat
Rasio kekayaan > 1
Yang dimaksud  rasio kekayaan adalah perbandingan antara rata-rata pendapatan dengan rata-rata pengeluaran
Kaya secara mental
Seseorang  yang dikatakan kaya jika dapat mempertahankan kualitas mentalnya seiring peningkatan kekayaan fisik dan finansial. Sebagai contoh  lain semakin kaya seseorang, semakin seseorang tersebut disiplin, rendah hati. Tidak sebaliknya, menjadi malas dan sombong.
Kaya secara sosial
Indikatornya adalah derma. Salah satu filosofinya adalah  karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain.
Kaya secara spiritual
Kaya secara finansial menghubungkan uang dengan nilai-nilai spiritual yang kita miliki. Ketika aktivitas finansial kita mendatangkan pahala maka kita kaya, dan sebaliknya, ketika aktivitas finansial mendatangkan dosa, maka pada dasarnaya kita miskin.

Kaya sejati adalah kondisi dimana seseorang dapat memenuhi kelima parameter tersebut dalam dirinya. Jika ada salah satu saja atau beberapa tidak terpenuhi maka Supardi Lee menyebutnya sebagai paradoks kekayaan, berarti kekayaan kita belum sempurna. Siapapun  ingin menjadi kaya, maka seharusnya kita akan memilih kaya sejati.
Kita baru membuka satu tema dalam buku ini. Semakin membuka lembar demi lembarnya, kita akan menemukan tema-tema lain yang tak kalah menariknya. Supardi Lee melengkapinya dengan “Tiga Tipe Manusia” sehingga pembaca diarahkan untuk memilih tipe achiever.

Supardi Lee memberi gambaran 5 manajemen keuangan achiever:

  1. Memiliki pendapatan yang terus meningkat
  2. Berderma dengan tepat
  3. Menabung untuk berbagai keperluan
  4. Kelola utang dengan bijak
  5. Seimbangkan konsumsi kebutuhan dan kesenangan

Masing-masing memiliki fungsi dan saling keterkaitan antara satu sama lain. Jika ini dilakukan dengan baik, maka seseorang memiliki pengelolaan yang sehat.

Dan untuk praktisnya, buku ini dilengkapi dengan panduan praktis alokasi penggunaan keuangan sukses. Untuk mudahnya perhatikan tabel berikut ini:

Demikianlah buku ini, tentu saya tidak bisa merangkum semuanya. Baca buku ini. Semoga kita bisa semakin bijak memandang arti kekayaan dan mengelolanya dengan baik sehingga menjadi manusia yang bahagia dan mampu memberi manfaat kepada sesama dan lingkungan. Termasuk prioritas kita dalam menggunakan uang, yang sebelumnya konsumsi-utang-menabung-derma, menjadi derma-menabung-utang-konsumsi. Mengapa demikian? Sekali lagi, baca saja buku ini. Semoga bermanfaat. (sam)

Pelajaran Efektif Dari Peter Drucker

Judul buku          : The Effective Executive

Penulis                 : Peter F. Drucker

Penerbit              : Serambi, Jakarta

Cetakan               : Pertama, Maret 2009

Halaman              : 345

Menurut Peter Drucker pertanyaan pertama kali yang wajib diajukan bagi siapapun terutama bagi para eksekutif untuk bisa efektif adalah “Apa yang perlu dilakukan?” dan “Apa yang tepat dilakukan?”. Pertanyaan perlu dan tepat dalam konteks efektif jauh lebih penting dari pertanyaan “Apa yang ingin dilakukan?” Pertanyaan perlu dan tepat akan lebih mengarah pada tujuan yang direncanakan ketimbang pertanyaan ingin. Ingin dalam kenyataannya malah sering mengacaukan konsentrasi kita atas tujuan-tujuan, entah itu tujuan-tujuan individu atau bahkan tujuan organisasi.  Inilah rumus dasarnya, perlu dan tepat = efektif.

Siapakah seorang eksekutif itu? Dia adalah seseorang dilihat  dari posisi atau pengetahuannya, bertanggung jawab untuk sebuah kontribusi yang mempengaruhi kapasitas organisasi untuk berjalan dan meraih hasil. Dia membuat keputusan dengan pengetahuannya, tidak hanya melaksanakan perintah. Selama dia dalam posisinya, maka sasaran, standar, dan kontribusi adalah tanggung jawabnya. Setiap pekerja pengetahuan dalam organisasi modern adalah seorang eksekutif.

Kebalikan dari  eksekutif adalah pekerja manual. Contohnya adalah pekerja yang bekerja disebuah pabrik sepatu. Setiap hari melakukan rutinitasnya, melakukan pekerjaan yang sama. Dia hanya melakukan aturan-aturan yang standar. Dia tidak memiliki otoritas untuk membuat kebijakan, apalagi membuat keputusan yang mempengaruhi hasil organisasi.

Yang dibutuhkan pekerja manual adalah efisien, tetapi seorang eksekutif tidak boleh tidak, membutuhkan pikiran dan sikap efektif. Menjadi efektif adalah pekerjaan seorang eksekutif. Dimanapun dia terlibat dalam organisasi modern (perusahaan, rumah sakit, pemerintahan, militer, pendidikan, organisasi nirlaba, organisasi mahasiswa dan lain-lain), seorang eksekutif diharapkan dapat menyelesaikan hal-hal yang tepat dan memberikan hasil. Dengan meningkatkan efektivitasnya, seorang eksekutif tengah menaikkan level kinerjanya secara signifikan.

Namun, bisakah efektivitas dipelajari? Jawabnya bisa! Karena sungguh malang nasib kita kalau efektif adalah bakat bawaan lahir manusia, sebagaimana ada orang yang terlahir dengan dengan bakat musik atau melukis. Menganggap efektif adalah hak orang-orang berbakat sejak lahir akan mengerdilkan kita. Organisasi-organisasi modern dengan pekerjaan yang kompleks membutuhkan banyak eksekutif-bayangkan ada berapa banyak eksekutif efektif yang berbakat sejak lahir!, ataukah adakah yang demikian?.

Jika efektivitas bisa dipelajari, pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana caranya?” Buku ini ditulis untuk menjawab pertanyaan itu. Peter Drucker menyebutnya lima latihan – bagaimanapun efektivitas bukan hanya disiplin ilmu tetapi juga disiplin diri – untuk menjadi seorang eksekutif efektif. Kelima latihan itu adalah :

1. Mengelola waktu

Eksekutif efektif tahu ke mana perginya waktu mereka. Mereka bekerja secara sistematis untuk mengelola sedikit waktu mereka yang dapat mereka kendalikan.

Peter F. Drucker menyarankan agar mula-mula kita merekam waktu-waktu kita dalam satu hari atau periode waktu tertentu. Kemudian mendiagnosisnya, untuk aktivitas-aktivitas apa saja waktu-waktu itu kita manfaatkan atau habiskan. Apakah aktivitas-aktivitas itu efektif. Perlu kita perhatikan bahwa untuk bisa menjadi efektif  bagaimanapun kita memerlukan waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Membagi pekerjaan itu ke dalam unit-unit waktu yang kecil bukanlah pilihan yang tepat. Mungkin kita bisa mengerjakan banyak pekerjaan, tetapi apakah itu sebaik ketika kita fokus pada pekerjaan kita dengan waktu yang cukup atau lebih lama.

Delegasi kemudian menjadi pilihan atas ketidakberdayaan kita. Ketika kita mulai berfikir untuk mendelegasikan tugas pada orang lain, kita harus hati-hati. Delegasi tidak ada artinya, jika itu dimaknai bahwa orang lain harus melakukan pekerjaan kita. Setiap orang dibayar untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Dengan begitu maka sebenarnya kita mendorong orang lain untuk lalai dari pekerjaan sendiri, untuk pekerjaan yang sebenarnya juga tidak terlalu penting untuk dirinya. Tulis Peter F. Drucker, “…itu bukan hanya tak masuk akal, itu tak bermoral.”

Apa yang perlu dilakukan adalah memberikan mandat penuh kepada orang lain untuk pekerjaan yang memang kita tidak mampu untuk melakukannya – bukannya delegasi. Selain itu kita perlu memangkas atau menyingkirkan pembuang-pembuang waktu yang tidak berguna.

2. Kontribusi apa yang bisa saya berikan?

Eksekutif efektif berfokus pada kontribusi di luar. Mereka menyeleraskan upaya mereka dengan hasil-hasil, bukannya dengan upaya. Mereka mengawali dengan pertanyaan, “Hasil apa yang diharapkan dari saya?” bukannya dengan pekerjaan yang akan dilakukan , apalagi dengan teknik dan alat-alatnya.

3. Membuat kekuatan menjadi produktif

Eksekutif efektif bersandar pada kekuatan – kekuatan mereka sendiri, kekuatan atasan, kolega dan bawahan mereka. Mereka tidak bersandar pada kelemahan. Mereka tidak memulai dengan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan.

4. Mendahulukan yang utama

Eksekutif efektif berkonsentrasi pada sedikit bidang utama di mana kinerja yang unggul akan memberikan hasil yang sangat memuaskan. Mereka memaksa diri sendiri untuk menetapkan prioritas. Mereka tahu bahwa mereka tak punya pilihan kecuali melakukan hal yang utama terlebih dahulu – dan tidak memecah perhatian mereka. Kalau tidak, tidak ada yang tuntas.

5. Membuat keputusan yang efektif

Eksekutif efektif membuat keputusan yang efektif. Pada dasarnya ini adalah masalah sistem, masalah langkah yang tepat dalam urutan yang tepat. Mereka tahu bahwa sebuah keputusan yang efektif selalu merupakan penilaian yang didasarkan pada opini-opini yang saling bertentangan, bukan konsensus atas fakta-fakta. Mereka tahu, membuat keputusan yang tergesa-gesa berarti membuat keputusan yang salah. Yang dibutuhkan adalah sedikit putusan tetapi fundamental. Yang dibutuhkan adalah strategi yang tepat , bukannya taktik yang rumit dan membingungkan.

Bagi sebagian orang buku ini mungkin terasa berat. Terjemahan yang kaku membuat kita agak susah untuk memahami maksud yang terkandung dari kalimat-kalimatnya. Meskipun begitu, kehadiran buku ini layak diapresiasi. Beberapa penjelasan mungkin sudah akrab di telinga kita. Tetapi Peter Drucker menyampaikannya dengan argumentasi dan penjelasan yang lebih mudah diterima. Di beberapa tempat dalam buku ini, kita juga melihat gagasan berbeda dari  yang kita pahami selama ini. Tak segan-segan Peter Drucker mengkritik sesuatu yang menurutnya salah secara tegas dan menyampaikan gagasan yang diyakininya. Hal ini tentu saja selain membuat kita lebih terinspirasi selain dari penegasan kembali dari nilai-nilai yang kita pahami selama ini, juga menambah wawasan baru yang lebih segar tentang bagaimana agar kita bisa menjadi eksekutif efektif.

Peter F. Drucker memang tidak diragukan lagi kepakarannya dalam dunia manajemen. Dia dianggap sebagai bapak pendiri disiplin manajemen, serta merupakan pemikir dan penulis paling berpengaruh secara luas tentang organisasi modern dan manajemennya. Pada tahun 2002, dia dianugerahi Presidential Medal Freedom. Harvard Business Review menulis, “Tulisan-tulisannya merupakan tonggak penting bagi profesi manajerial.”

Sam

Buku gudangnya ilmu, membaca adalah kuncinya.

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru dari Rumah Baca Cendekia

Join 13 other followers

Kunjungan

  • 12,106 kali
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.