You are currently browsing the tag archive for the ‘Memoar’ tag.

Judul Buku : For God and Country
Penulis : Kapten James Yee
(Seorang perwira muslim Amerika Serikat di penjara Guantanamo-Kuba)

Menjadi minoritas dalam lingkungan militer merupakan hal yang tak mengenakkan bagi seorang perwira. Seperti terkucilkan dan berbeda lingkungannya, hal seperti itulah yang dialami James Yee, seorang warga Amerika keturunan Jepang yang bertugas militer di Penjara Guantanmo-Kuba. Penjara terbesar no 2 milik militer Amerika setelah Al-Catraz.
Karir menjadi sipir di penjara untuk para teroris yang kebanyakan muslim tersebut, cukup membuat kesabaran James Yee hampir habis. Bayangkan saja, disanalah para tawanan muslim (yang dijuluki teroris) memperoleh penyiksaan-penyiksa an yang bukan saja fisik, namun juga batin selaku pemeluk Islam.
Kalaupun mendapat hukuman pukul, bagi tawanan hal itu dirasa biasa saja. Namun, seringkali bernuansa SARA seperti tingkah laku para sipir yang menginjak-nginjak Al-Qur’an, mengganggu ketika sedang menunaikan shalat dll. Kadangkala bila para tahanan terprovokasi maka Kapten James Yee harus turun tangan untuk melerai keributan antara sipir dan tahanan tadi.
Hal yang paling disesalkan Kapten James adalah, para sipir yang mayoritas Kristen tersebut berusaha memprovokasi para tahanan. Ulah provokasi bermacam-macam, mulai dari sengaja menumpahkan kopi ke atas Al-Qur’an hingga berteriak-teriak kalau malam tiba. Sebagai sesama muslim, hal tersebut sangat menyakitkan bagi dirinya, maka hanya keluarganyalah yang dapat memberikan motivasinya untuk bertahan karir di dunia militer sebelum Ia keluar dari dinas militer.
Buku setebal buku-buku fiqh tersebut ditulis berdasarkan pengalaman sang kapten selama menjadi sipir di Penjara Guantanamo yang sekarang telah ditutup. Berbagai hinaan dan cercaan sebagai penganut muslim Ia rasakan dengan hati pilu, nuraninya pun tidak bisa bertahan menyaksikan para saudara-saudara semuslimnya juga dihina agamanya.
Di akhir tulisan sekaligus biografi dirinya, Kapten James juga menambahkan foto-foto semasa beliau dinas militer, keluarganya serta sanak famili yang telah memberikan motivasinya untuk terus bertahan.

(Subandi Rianto, Ilmu Sejarah-UNAIR, 0812 2779 7042).

Penuh Inspirasi Dan Semangat Juang

Judul Buku : Aku Terlahir 500 gram Dan Buta

Pengarang : Miyuki Inoue

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

Tebal : xiv+183 hal

Tahun Terbit : 2008

Apa yang akan kita lakukan jikalau kita terlahir dalam keadaan abnormal dan buta? Tentunya kita akan merasa minder dengan pergaulan sehari-hari. Dan merasa hanya sebagai anak cacat yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan orang lain. Ini sebuah kebiasan mind set seorang abnormal namun berbeda halnya dengan Miyuki, gadis jepang yang terlahir dengan berat 500gram dan buta. Walau dengan ketidak sempurnaan fisik, dia tetap melanjutkan hidupnya dengan optimis dan penuh perjuangan. Berbagai prestasi telah ia raih dari ia kecil hingga dewasa. Diantaranya pada tahun 1998, pemenang lomba mengarang tingkat Kyushu dan 1999 karyanya mengantarnyamenjadi pemenang. Kekurangannya tidak menjadikan alasan baginya untuk melakukan seperti yang orang normal lakukan bahkan bersepedapun ia lakukan dengan mata yang tidak berpenglihatan.

Dalam buku’Aku Terlahir 500 gram dan Buta’ini berbagai pengalam dan kisah dari hidupnya ia tuangkan. Mulai dari sebelum ia dilahirkan sampai ia sekarang saat ini. Terdapat kisah-kisah menarik dalam buku ini, diantaranya saat keinginannya untuk menaiki sepeda layaknya orang normal pada umumnya. Dengan duungan sang ibu ia mulai belajar menaiki sepeda walaupun sapai 32 kali dia terjatuh dan tanpa edikitpun sang ibu membantunya untuk berdiri dari jatuh.

……………………………….

Suatu hari, aku mendengar lagu tentang ‘naik sepeda’ yang diputar di radio. Indah syairnya. Mendengar lagu itu, aku ingin mencoba naik sepeda, mencoba merasakan bagaimana rasanya diterpa angin saat menaiki sepeda.

Ibu, boleh tidak aku belajar naik sepeda. Lagu itu bercerita tentang enaknya naik sepeda dan aku ingi mencobanya,”kataku.

Wah kenapa tidak? Ayo dicoba!”Ternyata ibu mendukungku Kami menunggu waktu samai hari Minggu, saat Ibu mendapatkan libur.

…………………………………….

Ayo Miyuki, pertama ibu akan membantumu cara memegang sepeda ini. Lalu cobalah sendiri cara memegangnya. Setelah itu kamu belajar duduk dulu. Ayo, kamu harus bisa!” ibu menyemangatiku.

……………………………………

Aku tidak percaya ini. Jahat sekali Ibu. Masa anaknya jatuh dari sepeda malah diam saja. dia hanya berteriak dari bangku,”Ayo cepat berdiri!”

Sakit,”keluhku………..

……………………………………

Setelah 32 kali jatuh, aku lupa rasa sakitku. Yang bisa aku lakukan hanyalah mencoba dan terus mencoba menaiki sepeda.

Saat itu ada angin menerpaku. Aku bisa naik sepeda! Ibu berlari kearahku. “Kamu hebat, Miyuki. Kamu terus bersemangat dan berusaha sampai bisa!” Dia memelukku.

……………………………..

Dari cuplikan diatas banyak hal yang bisa kita ambil dan teladani perjuangan dari anak buta yang ingin merasakan sesuatu yang kebanyakan orang blang hanya bisa dilakukan oleh orang normal. Dengan usaha yang keras dan semangat tinggi ia akhirnya bisa mencapai tujuannya. Tenu saja dengan dukungan dari seorang ibu.

Cara mengajar yang berbeda kita dapatkan dari penggala cerita di atas. Memperlakukan seolah-olah Miyuki sebagai anak normal, ia berikan kemandiran kepadanya. Sikap yang jarang diperakukan kepada anak cacat pada umumnya.

Sedangkan dari segi bahasa, penggunaan kata ganti orang pertama tunggal membuat pembaca serasa dialah tokoh utama dalam kisah ini. Bisa merasakan perjuangan, semangat, kerja keras dari anak cacat yang berjuang meraih tujuannya. Bahkan bisa membawa pembaca untuk meras benci ataupun sayang terhadap sikap sang Ibu. Serta bisa pula merasakan perjuangan sang ibu dalam membesarkan dan mendidik Miyuki menjadi gadis yang mandiri.

Dalam buku ini terdapat foto-foto pendukung dari setiap kisahnya. Dari saat dia masih kecil, di ruang incubator , saat dia meraih penghargaan atas karya-karyanya, saat periatiwa dia naik sepeda, dan masih banyak lagi foto-foto yang mencerminka keunggulan-keunggulannya dari pada seorang gadis normal biasa.

johnwood

Judul         : Leaving Microsoft to Change The World

Penulis      : John Wood

Penerbit   : Bentang, Yogyakarta

Tahun      : 2007

Hal           : x + 368

Leaving Microsoft to Change The World, inilah memoar yang merekam perjalanan menakjubkan dari seorang John Wood, mantan eksekutif Microsot melalui lembaga Room to Read-nya. Pada tahun buku ini diterbitkan, Room To Read telah melebarkan sayapnya hingga mencapai 3600 perpustakaan di Asia. Mendirikan perpustakaan sebanyak itu apalagi di benua berbeda dari benua asal pendirinya adalah prestasi yang luar biasa.

Segalanya memang tidak mudah. Hal ini pun diakui oleh John Wood sendiri. Termasuk keputusan yang paling berat, meninggalkan posisi seorang eksekutif di Microsoft, perusahaan teknologi terkemuka, kemudian menjadi seorang pendiri perpustakaan sosial. Di saat pencapaian yang sudah diraihnya, gaji tinggi, mobil dan pengemudi sehari penuh, pilihan saham dan mandat penuh untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia dengan biaya perusahaan, ini tentu bukan keputusan yang mudah.

Ternyata satu kunjungan wisata ke Himalaya-lah yang mengubah perjalanan hidupnya. Di sana John dihadapkan pada kondisi masyarakat yang membutuhkan uluran tangannya. Kondisi pendidikan yang sangat jauh berbeda dari apa yang dia dan lingkungannya alami di Amerika. Di tempat itu, Nepal, sekolahnya parah, lantainya tanah, atapnya seng, anak-anak duduk berdesak-desakan. Karena kekurangan bangku, mereka meletakkan buku catatan di atas lutut.

Terlebih, saat mengunjungi perpustakaan, dilihatnya tak ada satu bukupun di sana. Ternyata, buku-buku itu karena sedikitnya, menjadi sangat berharga. Pihak sekolah memutuskan untuk menyimpannya di suatu tempat karena takut anak-anak merusak buku-buku itu.

Bagi John, pemandangan yang memprihatinkan ini membuatnya miris. Hasil diskusi dengan guru-guru adalah harapan agar John suatu saat akan kembali dengan berbagai permintaan buku. Buku cerita, buku tentang binatang, buku pelajaran abjad, geografi dan buku-buku lain yang dibutuhkan. Mereka memohon kepada John dengan permohonan yang sangat. Dan John pun berjanji akan kembali dengan buku-buku itu.

Babak baru kehidupan John berikutnya adalah masa-masa bersama Room to Read, lembaga nirlaba yang didirikannya. Bukan hanya buku untuk satu sekolah, tapi banyak sekolah. Bahkan ke beberapa negara. Aktivitas John mulai membuat permintaan, mengumpulkan buku, fundrising, membangun jaringan sampai melihat pelaksanaan di lapangan. John memang tidak lagi bekerja di Microsoft, tapi kini dia adalah CEO dari sebuah perusahaan, meski perusahaan nirlaba.

Proyek ini tentu sudah ada dalam pikirannya. Ide sederhanya adalah pada perbedaan tingkat kemakmuran antara Amerika dan negara di Asia. Sekecil berapa pun nominal uang di Amerika, dapat digunakan untuk membeli lebih banyak buku di Asia. Dan proyek pun berjalan meski disertai kesulitan dan penolakan yang menyakitkan, sampai proyek berhasil dan mendapatkan pengakuan.

Bagi John, kehidupan inilah yang disyukurinya. Mengikuti panggilan hatinya untuk memberi harapan pada dunia pendidikan di negara yang membutuhkan. Tak hanya Nepal, Room to Read merambah sampai ke Kamboja, India dan Srilanka. Sampai sekarang entah berapa jumlah tepatnya. Sekolah-sekolah dibangun. Ribuan perpustakaan didirikan. Jutaan buku didonasikan. Dan ribuan anak-anak mendapat beasiswa.

Dunia memang tempat berbagi. Bagi orang yang menikmati petualangan, jarak bukanlah halangan. Dari Amerika ke Asia, John Wood bersama orang-orang yang terlibat dalam proyek Room to Read telah berhasil merealisasikannya. Hebat! (sam)

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru dari Rumah Baca Cendekia

Join 13 other followers

Kunjungan

  • 12,106 kali
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.