You are currently browsing the tag archive for the ‘Tokoh’ tag.

Buku Asli

Judul : Syabab Hawl al-Rasul

Pengarang : Fathi Fawzi Abd al-Mu’thi

Penerbit : Al-Andalus al Jadidah, Kairo:1430 H/2009 M

Buku Terjemahan

Judul : Sahabat Remaja Nabi

Penerjemah : Asy’ri Khatib

Penerbit : Zaman, Jakarta Timur Raya, 2011

Hal : 385 hal + 3 hal iklan + cover

 Teladan Kaum Muda

“Berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku ubah dunia” (Ir. Soekarno)

“Satu orang tua hanya bisa bermimpi satu pemuda bisa merubah segalanya” (taujih)

“Sumber daya yang tidak pernah habis adalah pemuda” (M. Natsir)

Perubahan tidak akan pernah lepas dari pemuda. Keyakinan Ir. Soekarno untuk memplokamirkan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari semangat juang pemuda Indonesia kala itu. Bertindak dengan semangat perubahan. Dan tentunya demi perubahan yang lebih baik. Masa depan bangsa ini tak kan lepas pula dari peran pemuda Indonesia saat ini. Untuk itulah semangat juang pemuda harus ada pegangan dan koridornya dalam bergerak. Tidak hanya bisa bermodal semangat namun perlu dengan akhlak yang baik (akhlakul karimah). Buku yang diakrang oleh Fathi Fawzi Abd al-Mu’thi ini, memberikan makna perjuangan pemuda yang sesungguhnya demi Negara dan agamanya.

Ali bin abi tholib salah satu kader bentukan Rosululah yang juga sempat menjadi salah satu pemimpin umat muslim (Khalifaur Rosidin). Kiprahnya dalam penyebaran islam tidak perlu dipertanyakan lagi. Didikan sejak kecil langsung dari Rosulullah dan kepadanya pula Rosulullah menyerahkan putri kesayangannya, Fatimah az Zahra, yang dari mereka lahir punggawa-punggawa surga (Hasan dan Husein). Ali bin abi Tholib salah satu dari sepuluh orang yang dijanjikan surga atas dirinya. Islam juga telah memiliki kader handal dalam hukum Halal dan Haram dari kalangan pemudanya, Mu’adz bin Jabal. Rosulullah pernah bersabda tentang dirinya, “Petiklah Al-Quran dari empat orang: Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Mu’azd bin Jabal, dan Salim, budak Abu Hudzaifah.”

Dalam buku terjemahan ini, Sahabat Remaja Nabi. Banyak hal yang bisa dipetik, kader remaja Rosulullah tumbuh menjadi manusia mulia dikalangan umat islam. Tidak hanya semangat mudanya yang berkobar namun juga semangat juang tinggi dalam ilmu dan perjuangan islam. Banyak keistimewaan dari setiap kader di sekolah Rosulullah ini. Salah satu ulama yang sangat terkenal dalam hal perawi hadis adalah Anas Bin Malik, terdidik di sekolah Rosulullah sejak umurnya sepuluh tahun, menjadi pelayan setia Rosulullah. Saat meninggal, para ulama berkata, “Hari ini telah berlalu separuh ilmu”. Ini bukti akan keluasan ilmu yang dimilikinya.

Inilah pemuda di jaman Rosulullah di tempa dalam didikan Rosul, sehingga menjadi pemuda yang gagah dan penuh dengan sarat. Banyak tokoh pemuda didikan Rosulullah yang bisa diambil pelajaran untuk kaum muda yang mengaku ingin menjadi perubah dunia ini, rela berkorban demi kejayaan islam tumbuh di negeri ini. Habib bin Zaid merelakan nyawanya untuk menyeru Musailamah si pembohong untuk bertaubat; Usamah bin Zaid yang gagah berani di barisan pertama pasukan perang, megibarkan bendera islam; Zaid bin Tsabit dengan kecerdikan dan ahli dalam ilmu faraid, dan masih banyak kader remaja Rosulullah lainnya yang bisa dijadikan acuan.

Secara bahasa buku ini mudah dipahami dan diberi penjelasan disetiap tokoh yang disebutkan, hal ini akan menambah pengetahuan kita terkait tokoh islam yang pernah hidup di zamannya. Banyak wawasan yang bisa diambil serta banyak cerita yang baru bisa didapat dengan membaca buku ini. Buku yang di terbitkan di Kairo ini, diharapkan bisa memberi acuan dalam pergerakan pemuda Islam yang mengaku ingin merubah bangsanya menjadi lebih baik. (rin)

Judul : Seri Buku Tempo : Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman

Penulis : Tim Tempo

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta

Cetakan : I, September 2010

Hal : xx + 172 halaman

“Pemimpin berarti suri tauladan dalam segala perbuatannya…”

Boleh jadi, inilah, kata-kata terkuat yang ada di buku ini. Sebenarnya ini adalah coretan tangan bertanggal 2 Juli 1949, di sebuah rumah di Pulau Bangka. Sepintas tak istimewa kecuali karena ditulis oleh seseorang yang harum dan besar namanya dalam sejarah Bangsa Indonesia : Mohammad Hatta.

Hatta dilahirkan oleh Saleha Djamil di Desa Tajungkang, Bukittingi pada 12 Agustus 1902. Ayah beliau Haji Mohammad Djamil. Hatta meninggal di Jakarta 14 Maret 1980 meninggalkan orang-orang yang mencintainya, kenangan dan keteladanan seperti petikan tulisannya di atas yang bersemangat.

Mohammad Hatta adalah sosok yang kuat dalam tiga hal :

Seorang religius

Semasa kecilnya Hatta belajar  mengaji kepada Syekh Mohammad  Djamil Djambek sampai mengkhatamkan Al-Qur’an. Tak pernah alpa menghadiri majelis beliau di surau, selepas belajar di Europeesche Lagere School (ELS). Saat belajar di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) di Padang, Hatta juga memperoleh bimbingan agama dari Haji Abdullah Ahmad. Bersamaan dengan itu Hatta mengenal Jong Sumatranen Bond dan mendengarkan ceramah dari tokoh-tokoh agama dan pergerakan.

Selama hidupnya Hatta dikenal sebagai sosok yang taat agama, menjaga sholat dan menghargai waktu, selain kesederhanaannya. Saat pengasingannya bersama Sutan Sjahrir di Banda, hari-harinya dihabiskan dengan diskusi, jalan-jalan ke perkebunan, belajar, membaca buku dan menulis untuk untuk surat kabar. Bahkan saking disiplinnya, Hatta dijadikan jam bagi para pekerja perkebunan pala. Mereka menandai kemunculan Hatta sebagai jam lima, yang berarti saatnya berhenti bekerja.

Kelak, pemahamannya terhadap nilai-nilai agama juga mempengaruhi cara dan sikapnya dalam kesehariannya maupun berpolitik.

Seorang akademisi

Pendidikan tinggi Hatta adalah Rotterdamse Handelshogeschool – sebuah sekolah ekonomi bergengsi di Belanda. Hatta masuk saat usia 19 tahun. Di sanalah Hatta bertemu dengan sesama pelajar Indonesia yang memiliki semangat untuk memerdekakan Indonesia dari tangan Belanda melaui wadah Perhimpunan Indonesia. Hatta pernah menjadi ketuanya. Jadilah Hatta sebagai seorang doktor ekonomi dan aktivis pergerakan. Sikapnya yang tegas menentang penjajahan kolonial membuatnya dipenjara oleh pemerintah Belanda.

Ia menaruh perhatian yang tinggi dalam ilmu pengetahuan. Kecintaannya terhadap buku sudah tidak perlu diragukan lagi. Bacaan bukunya melimpah. Itulah amunisinya, untuk membuat tulisan-tulisanya menjadi senjata yang tajam dan menggetarkan. Apalagi Hatta juga fasih berbahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman, membuat tulisan dan pidatonya memiliki gaung internasional.

Uniknya, emas kawin untuk menikahi istrinya, Rahmi, pada November 1945 adalah buku! Buku Alam Pikiran Yunani yang ditulisnya sendiri. Memang Hatta!

Sedangkan perhatiannya terhadap dunia ekonomi hadir lewat koperasi yang kita kenal hingga saat ini.

Seorang negarawan

Ia mencintai negerinya. Bersama Sukarno ia menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya mereka dikenal sebagai Dwitunggal karena menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia. Tetapi mereka berbeda dalam banyak hal. Pertentangan mereka tampak jelas ketika Sukarno menolak mengesahkan Maklumat X yang diteken Hatta untuk meletakkan sistem multipartai dan demokrasi parlementer. Tahun 1956 Sukarno malah mencanangkan Demokrasi Terpimpin sambil berseru, “Marilah sekarang kita kubur semua partai.”

Hatta mengecam konsep Sukarno ini sebagai bentuk kediktatoran. Dan perpecahan pun tak terelakkan. Akhirnya, tahun 1956 Hatta mengundurkan diri dari pemerintahan.

Meski tidak lagi di pemerintahan, Hatta tak kehilangan kekritisannya. Lewat forum-forum dan tulisan-tulisannya  di media massa ia mengkritik sikap politik Sukarno dan pengelolaan Negara yang tidak semestinya. Akibatnya pada tahun 1960 sejumlah surat kabar dibredel penerbitannya. Selanjutnya Hatta menggunakan cara menulis surat pribadi kepada Sukarno agar tak menyusahkan orang lain. Ini dilakukannya pada tahun 1957-1965, saat Sukarno menjadikan dirinya sendiri sebagai presiden seumur hidup.

Di luar segala perbedaan tersebut, Hatta dan Sukarno adalah teman satu sama lain. Pertemuan terakhir mereka adalah saat Hatta menjenguk Sukarno yang diopname di rumah sakit pada 19 Juni 1970. “Hatta, kamu di sini?” Tanya Sukarno. “Ah, apa kabarmu, No?” jawab Hatta sambil menyalami tangan Sukarno dengan hangat.

Hatta terdiam, dan Sukarno berlinangan air mata. Ketika saatnya berpisah, Hatta  masih berat melepaskan tangan Sukarno. Dua hari setelah pertemuan itu, Sukarno meninggal dunia.

Hatta, di antara bapak pendiri bangsa, bersama-bersama yang lain merasakan suka dukanya perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Pembuangannya ke Banda, Bangka dan Digul pun tetap memiliki kesan dan pesan berharga. Seseorang dengan pendidikan eropa, tapi tak kehilangan jati dirinya. Kaulah anak cie pamainan mato (anak yang pada dirinya terpendam kebaikan, dan perangainya mengundang rasa sayang). Tak salah jika bangsa Belanda pun menamakan salah satu jalannya dengan namamu, Mohammed Hattastraat.

(Sam, Tanjung, Kalsel 26/12/2010)

Judul Buku : Saatnya Dunia Berubah!
Penulis : Siti Fadilah Supari
(Mantan Menteri Kesehatan RI)

Buku fenomenal karangan –mantan- orang nomor satu di Departemen Kesehatan ini, pertama kali “meledak” bukan di Indonesia. Tapi, di negara tetangga. Australia. Disanalah digelar symposium nasional yang membahas karya dokter ahli jantung ini. Kebanyakan para ahli memuji sikap Menkes yang berani unjuk suara terhadap ketidakadilan di dalam sistem kesehatan dunia. Barulah setelah mengetahui ada kabar symposium di Australia, media massa di Indonesia berusaha meledakkannya di dalam negeri. Tak butuh seminggu, Menkes sudah dibicarakan masyarakat mengenai karyanya yang kritis tersebut.
Berbicara mengenai kekritisan sang menteri dalam bukunya. “Saatnya Dunia Berubah” membahas habis mengenai sistem kesehatan di dunia (di bawah naungan WHO) yang penuh ketidakadilan bagi negara-negara berkembang. Secara gamblang beliau menjelaskan panjang lebar mengenai sistem tersebut.
Sebuah sistem pendistribusian virus dari negara berkembang yang diambil sampelnya disetor ke WHO (Penyetoran tersebut seringkali tanpa kontrak yang jelas) dari sanalah WHO membawa virus ke laboratorium Departemen Pertahanan Amerika. Yang membuat Siti Fadhilah sewot adalah dengan dibawanya sample virus ke lab tersebut telah menimbulkan tanda Tanya besar. Virus pasti akan dibuat antivirusnya dan dijual kembali kepada negara berkembang dengan harga yang sangat mahal (padahal sample virus tadi diambil dari negara berkembang).
Presentasi makalah (sebelum dibukukan) Siti Fadhilah Supari untuk mereformasi ulang sistem tersebut mendapat apreasiasi luas di kalangan Internasional. Khususnya negara-negara Afrika. Beliau menekankan perlunya kedudukan yang jelas negera pengirim sample dalam kasus pembuatan antivirus ini. Agar kedepannya tercipta sistem yang berkeadilan bagi negara-negara berkembang (yang notabene sering terserang penyakit bervirus).
Demikianlah, disaat pemerintahan- pemerintahan negara lain bungkam terhadap sebuah permasalahan besar. Dari Indonesia kita mempunyai menteri –yang mirip dengan Ali Alatas- berani menyuarakan keadilan tanpa menyuarakan suara antiasing. Sayangnya, dalam pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II SBY-Boediono. Orang-orang seperti Siti Fadhilah Supari tersingkir dari kursi menteri. Wallahualam apa rencana pemerintahan yang baru ini.

(Subandi Rianto, Ilmu Sejarah-UNAIR, 0812 2779 7042).

Judul Buku : Dari Kilometer 0,0
Penulis : Andi Mallarangeng
(Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk dalam negeri, sekarang sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga).

Tak jauh beda dengan Dr. Dino Pati Jalal, Jubir Presiden untuk dalam negeri, Bpk Andi Mallarangeng malah menulis tentang kesehariannya sebagai jubir di salah satu Koran nasional. Semua artikel itulah yang kemudian dibukukan dengan judul “Dari Kilometer 0,0″. Agak terkesan aneh dengan judulnya. Tapi, dalam kata pengantarnya dijelaskan bahwa maksud kilometer 0,0 adalah dimana keadaan beliau sebagai jubir sangat dekat sekali dengan presiden. Sehingga dapat dikatakan tak ada jarak presiden dengan dirinya.
Berbeda dengan yang ditulis Dino Patti Jalal mengenai kepemimpinan SBY. Andi Mallarangeng menulis pengalamannya dalam mendampingi presiden selama melakukan inspeksi di dalam negeri. Tak jauh dengan apa yang kita lihat di surat kabar, beliau juga membagi pengalaman mengenai ketatnya protokol istana jika ingin bertemu presiden.
Pengalamannya dalam menyiapkan pertemuan presiden dengan sejumlah pejabat tinggi negara, mendampingi presiden ketika siaran pers (jumpa pers) dll.
Gaya penulisannya yang mengalir lugas lebih membuat jalan cerita mudah ditangkap pembaca. Hal ini berbeda dengan gaya penulisan “Harus Bisanya” Dino Patti Jalal yang cenderung formal seperti skripsi. Pak Andi –sapaan akrab Andi Mallarangeng- menceritakan satu demi satu peristiwa dengan cair dan diakhir artikel selalu diberi semacam pendingin-pendingin nya.
Sayangnya, kumpulan artikel ini dirasa hanya seperti pengetahuan ringan saja tentang kehidupan seputar presiden kita. Sangat jauh berbeda dengan “Harus Bisa”, disini tidak menceritakan secara lugas bagaimana SBY bersikap menghadapi rakyatnya. Malahan, yang banyak disorot adalah tingkah laku rakyat dalam menghadapi presidennya. Semisal, ketika SBY melakukan inspeksi, Pak Andi hanya membeberkan sekilas esensinya dan lebih menyoroti kulit luar masyarakatnya.
Tapi, ada satu hal yang perlu kita teladani dari Pak Andi ini. Beliau, sebagai jubir presiden yang selalu stand by disisi kepala negara. Selalu tidak meninggalkan hobinya yaitu menulis, dimana saja Ia tak lupa membawa notebook kecilnya untuk merekam kejadian-kejadian penting selama bertugas disisi presiden.

(Subandi Rianto, Ilmu Sejarah-UNAIR, 0812 2779 7042).

Judul Buku : Harus Bisa!
Penulis : Dr. Dino Patti Djalal
(Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk Luar Negeri).

Buku ini menceritakan sisi lain presiden kita –Susilo Bambang Yudhoyono- di mata juru bicaranya. Pengalaman mendampingi beliau selama dalam kabinet Indonesia Bersatu Jilid satu, dituliskan secara gamblang oleh doktor hubungan luar negeri ini. Mulai dari sifat SBY yang disiplin di saat Konferensi KAA, rapi serta mengharap semua bawahannya dapat mematuhi instruksi dengan jelas dan cepat.
Selain itu, istana negara juga punya langganan tukang pijet presiden, orangnya adalah keturunan tionghoa yang pinter akan pijat-memijat tradisional Cina. Beliaulah yang didapuk untuk menjadi tukang pijet presiden ketika presiden kecapekan karena tugas.
Yang terpenting dari penulisan buku ini adalah penggambaran sosok kepemimpinan yang ada di presiden dari Jawa Timur ini. Kelihatannya seperti tenang karena pembawaan SBY sejak dari militer di bagian strategi, namun SBY juga orang yang regres dalam hal instruksi. Beliau paling tidak suka jika program untuk rakyat yang butuh reaksi cepat, ternyata molor dijalankan bawahannya. Masih banyak cerita kepemimpinan lainnya yang patut kita pelajari dari presiden yang menjadi kandidat penerima nobel perdamaian ini.
Hampir 80% cerita yang dituliskan mencerminkan kelebihan SBY secara umum dan khusus, sehingga cenderung subjektif –karena dilihat dari sudut pandang jubir- namun buku setebal Da Vinci Code ini mampu menggambarkan sisi-sisi tersembunyi seorang presiden. Yang belum tentu diketahui banyak orang.
Terakhir, buku ini juga tidak diperjualbelikan layaknya buku-buku seperti biasanya. Dicetak dengan limited edition dan hanya diberikan untuk lembaga-lembaga pendidikan serta orang-orang tertentu. Jadi jika anda mencari buku ini di toko-toko buku akan sangat susah dicari, alangkah baiknya dapat mencari di perpustakaan yang dimiliki lembaga pendidikan atau ke sekretariat negara langsung di Jakarta.

(Subandi Rianto, Ilmu Sejarah-UNAIR, 0812 2779 7042).

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru dari Rumah Baca Cendekia

Join 13 other followers

Kunjungan

  • 12,106 kali
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.